Konsolidasi Industri Charging EV Singapura: 36 Operator Bersaing, Dua Pemain Besar Hengkang
Baca dalam 60 detik
- Industri pengisian kendaraan listrik di Singapura memasuki fase konsolidasi setelah dua operator besar keluar dan satu akuisisi terjadi.
- Meskipun penjualan EV melonjak, hanya 7,4% dari total populasi mobil yang listrik, membuat kapasitas charging berlebih di tengah tingginya biaya investasi.
- Para ahli menilai konsolidasi dapat meningkatkan efisiensi skala, namun tantangan ketersediaan listrik dan pendanaan tetap menjadi hambatan.

Lonjakan jumlah operator pengisian daya kendaraan listrik di Singapura mulai menghadapi titik jenuh, ditandai dengan dua hengkangnya pemain besar dan satu akuisisi yang mengguncang pasar. ChargEco, yang mengelola lebih dari 1.000 titik pengisian, diakuisisi SP Mobility pada Juni lalu, sementara TotalEnergies menghentikan operasinya pada November tahun sebelumnya, mentransfer 1.400 titik ke operator lain. Kondisi ini memicu spekulasi bahwa industri yang sempat tumbuh pesat pasca kebijakan pemerintah tahun 2020 kini menuju konsolidasi.
Setelah Wakil Perdana Menteri Heng Swee Keat mengumumkan pada 2020 bahwa semua mobil baru harus ramah lingkungan pada 2030, setidaknya 14 perusahaan charging EV baru bermunculan. Kini, terdapat 36 operator aktif yang tercatat di Otoritas Transportasi Darat Singapura. Namun, dari jumlah tersebut, hanya segelintir yang bertahan aktif, sebagian besar melayani kondominium dan kawasan industri. โBanyak operator yang masuk sejak 2022 kini memperlambat ekspansi, menjual aset, atau berhenti tumbuh,โ ujar Elson Toh, direktur EVOne Charging.
Kesenjangan antara adopsi EV dan infrastruktur charging menjadi masalah klasik: konsumen enggan beralih tanpa stasiun pengisian yang memadai, sementara operator enggan membangun tanpa permintaan yang pasti. Ekonom transportasi Walter Theseira dari Singapore University of Social Sciences menilai bahwa pendekatan Singapura justru membangun stasiun terlebih dahulu. โJaringan charging nasional kami sebagian besar didasarkan pada pemasangan charger di berbagai lokasi, bukan menyesuaikan dengan permintaan setempat,โ katanya. Pemerintah bahkan merencanakan setidaknya satu hub pengisian cepat di setiap kota perumahan HDB pada 2027.
Para pelaku industri mengakui tantangan besar lainnya: biaya modal tinggi, keterbatasan daya listrik, dan kompleksitas teknis. Dean Cher, Managing Director SP Mobility, mengatakan bisnis charging EV membutuhkan investasi awal besar sebelum utilisasi mencapai tingkat yang menguntungkan. Sementara itu, Demi Tung dari Eigen Energy menekankan pentingnya penempatan yang disiplin, karena stasiun dengan utilisasi rendah bisa memakan waktu lebih dari empat tahun untuk balik modal.
โKonsolidasi aset dapat menghasilkan efisiensi, seperti sistem pembayaran yang lebih terpadu dan peningkatan ketersediaan titik pengisian, yang pada akhirnya mendorong adopsi EV,โ ujar Alberto Salvo, ekonom dari National University of Singapore.
Konteks Indonesia: Pengalaman Singapura menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia yang tengah gencar mendorong ekosistem kendaraan listrik. Dengan target 2,5 juta pengguna EV pada 2030, Indonesia menghadapi risiko serupa jika pembangunan infrastruktur tidak diiringi koordinasi yang matang. Saat ini, jumlah stasiun pengisian umum di Indonesia masih sangat terbatas, dan mayoritas berada di Pulau Jawa. Tanpa kebijakan yang mendorong efisiensi dan skala ekonomi, bukan tidak mungkin industri charging nasional akan menghadapi konsolidasi dini seperti di Singapura.
Ke depan, konsolidasi dipandang bukan sekadar keniscayaan, tetapi juga peluang. Dengan lebih sedikit pemain, biaya operasional bisa ditekan, pengalaman pengguna meningkat, dan investasi menjadi lebih terarah. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah pemerintah dan regulator siap mendorong integrasi sistem pembayaran dan standarisasi teknis agar ekosistem EV benar-benar matang? Atau adopsi EV akan terus terhambat oleh ketidakpastian bisnis charging?



