Obligasi Global Danantara Ludes Terjual, Permintaan Tembus US$4,6 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Danantara Investment Management sukses menerbitkan obligasi global perdana senilai US$1,5 miliar dengan kelebihan permintaan hingga tiga kali lipat.
- Minat investor institusi dari AS, Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia menunjukkan kepercayaan terhadap fundamental dan tata kelola Danantara.
- Keberhasilan ini membuka akses pendanaan internasional bagi Danantara dan memperkuat posisi Indonesia di pasar obligasi global.

Danantara Investment Management (DIM) mencatatkan debut gemilang di pasar obligasi global. Penerbitan surat utang internasional perdana senilai US$1,5 miliar mendapat sambutan luar biasa, dengan total permintaan mencapai US$4,6 miliar—lebih dari tiga kali lipat nilai yang ditawarkan.
Minat investor institusi bereputasi tinggi dari Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia menjadi motor di balik kelebihan permintaan tersebut. Menurut keterangan resmi DIM pada Jumat (12/6/2026), tingginya animo mencerminkan persepsi positif terhadap fundamental, tata kelola, dan prospek jangka panjang perusahaan. “Keberhasilan ini menunjukkan bahwa Danantara Indonesia dipandang memiliki fundamental, tata kelola, dan prospek jangka panjang yang kuat, sehingga tetap menjadi tujuan investasi bagi investor global bereputasi tinggi,” tulis manajemen.
Dalam penerbitan ini, DIM menawarkan dua seri obligasi. Seri pertama bertenor 5 tahun senilai US$750 juta dengan kupon 5,35%, sementara seri kedua bertenor 10 tahun senilai US$750 juta dengan kupon 5,95%. Kedua seri ditetapkan dengan spread yang ketat terhadap kurva sovereign Indonesia: 32 basis poin di atas kurva sekunder untuk seri 5 tahun, dan 34 basis poin untuk seri 10 tahun. Spread tersebut terdiri dari premi terhadap nilai wajar sovereign dan konsesi penerbitan perdana masing-masing sebesar 10 basis poin.
Bagi pasar keuangan Indonesia, kesuksesan ini menjadi sinyal positif. Obligasi DIM yang diterbitkan dengan spread ketat menunjukkan bahwa investor global tidak hanya percaya pada prospek Danantara, tetapi juga pada stabilitas ekonomi makro Indonesia. Analis menilai bahwa kemampuan Danantara menarik minat institusi kelas dunia tanpa perlu memberikan imbal hasil yang terlalu tinggi merupakan bukti kredibilitas yang terbangun. “Ini membuka jalan bagi perusahaan pelat merah lainnya untuk mengakses pasar obligasi global dengan biaya pendanaan yang kompetitif,” ujar seorang pengamat pasar modal.
Namun, tantangan ke depan tetap ada. Danantara harus menjaga kinerja operasional dan transparansi tata kelola agar kepercayaan investor tidak luntur. Dengan total utang yang kini bertambah, perusahaan juga perlu memastikan arus kas mampu memenuhi kewajiban bunga dan pokok tepat waktu. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah Danantara akan melanjutkan strategi pendanaan melalui obligasi global secara reguler, atau justru memanfaatkan momentum ini untuk ekspansi bisnis yang lebih agresif.



