Krisis Demografi Jepang: Koshien University Berhenti Menerima Mahasiswa Baru
Baca dalam 60 detik
- Koshien University di Hyogo, Jepang, mengumumkan penghentian penerimaan mahasiswa baru mulai tahun ajaran mendatang karena jumlah pendaftar anjlok.
- Hanya 270 mahasiswa yang tersisa, setara 30% dari kapasitas, imbas pandemi COVID-19 dan menyusutnya populasi usia 18 tahun di Jepang.
- Yayasan Koshiengakuin memastikan pendidikan berjalan hingga lulus, sementara sekolah lain di bawahnya tak terdampak.

Universitas Koshien di Takarazuka, Prefektur Hyogo, memutuskan untuk tidak lagi menerima mahasiswa baru mulai tahun ajaran depan—sebuah cerminan nyata tekanan demografi yang menghantam sektor pendidikan tinggi Jepang. Lembaga pendidikan swasta yang berdiri sejak 1967 ini hanya memiliki 270 mahasiswa saat ini, atau sekitar 30 persen dari total kapasitasnya.
Keputusan pahit itu diumumkan pada 23 Juli oleh yayasan penyelenggara, Koshiengakuin. Mereka menyebut dua faktor utama: terus menurunnya jumlah remaja berusia 18 tahun di Jepang—yang merupakan calon mahasiswa potensial—serta kerugian finansial yang membebani operasional kampus. Pandemi COVID-19 memperparah keadaan ketika angka pendaftaran merosot tajam dan tak pernah pulih.
"Jumlah pendaftar merosot drastis selama pandemi dan tidak pulih setelahnya, sehingga kami mengambil keputusan sulit ini," ujar perwakilan yayasan. Meski begitu, mereka berjanji akan memberikan pendidikan yang solid hingga seluruh mahasiswa yang ada saat ini lulus. Upaya juga akan dilakukan agar para mahasiswa tidak dirugikan dalam pencarian kerja maupun aktivitas lainnya.
Universitas yang menaungi dua fakultas—Ilmu Gizi dan Psikologi—ini sebenarnya bagian dari jaringan pendidikan yang lebih besar. Koshiengakuin juga mengelola taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Yayasan menegaskan bahwa jenjang pendidikan lain tersebut tidak akan terpengaruh oleh penghentian penerimaan mahasiswa baru di universitas.
Fenomena ini bukanlah kasus terisolasi. Jepang menghadapi krisis demografi yang akut: tingkat kelahiran yang rendah membuat populasi usia 18 tahun terus menyusut. Banyak universitas kecil dan menengah di daerah terpaksa gulung tikung atau merger. Menurut data pemerintah, lebih dari 200 perguruan tinggi swasta di Jepang terancam bangkrut dalam satu dekade ke depan jika tren ini berlanjut.
Bagi Indonesia, kondisi Jepang bisa menjadi pelajaran berharga. Negeri ini justru menikmati bonus demografi dengan mayoritas penduduk usia produktif. Namun, tanpa perencanaan yang matang, ledakan jumlah lulusan SMA yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi bisa menimbulkan masalah baru—seperti persaingan ketat masuk PTN dan maraknya kampus swasta berkualitas rendah. Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi dengan memperkuat pendidikan vokasi dan mendorong relevansi kurikulum terhadap kebutuhan pasar kerja.
Langkah Universitas Koshien meninggalkan tanda tanya besar: apakah keputusan serupa akan menyusul dari kampus-kampus lain di Jepang? Ataukah ini awal dari gelombang restrukturisasi massal di sektor pendidikan tinggi negeri Sakura? Yang jelas, pilihan yang diambil Koshien bukan sekadar soal finansial, melainkan cermin kejam dari perubahan struktur usia masyarakat yang tak terhindarkan.



