Jerman Incar Kemenangan Perdana atas Curacao demi Pulihkan Reputasi di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Jerman, yang tersingkir di fase grup pada dua edisi Piala Dunia terakhir, membidik kemenangan telak atas Curacao di laga pembuka Grup E untuk memulihkan citra.
- Curacao, negara termuda dan terkecil yang lolos ke Piala Dunia, menjadi lawan ideal bagi Jerman yang tengah dalam tren sembilan kemenangan beruntun.
- Pelatih Curacao Dick Advocaat, 78 tahun, akan menjadi pelatih tertua dalam sejarah Piala Dunia dan menantikan ujian melawan raksasa sepak bola Jerman.
Jerman memulai perjuangan mereka di Piala Dunia dengan target mutlak: mengalahkan Curacao pada laga perdana Grup E di Boston, Massachusetts. Tim besutan Julian Nagelsmann itu tak hanya mengejar tiga poin, tetapi juga berusaha memulihkan reputasi internasional yang tercorel akibat dua kali tersingkir di babak penyisihan grup pada edisi 2018 dan 2022.
Sebagai juara dunia empat kali, Jerman sadar bahwa hasil imbang atau kekalahan akan langsung memicu tekanan besar, terutama dari publik yang haus akan kebangkitan tim nasional. Meski tidak menempatkan diri sebagai favorit utama—menurut Direktur Timnas Rudi Völler ada tiga atau empat tim lain yang lebih diunggulkan—Jerman tetap percaya diri setelah meraih sembilan kemenangan beruntun, termasuk kemenangan 4-0 atas Finlandia dan 2-1 melawan tuan rumah Amerika Serikat dalam laga uji coba terakhir.
Curacao, negara kepulauan di Karibia yang menjadi peserta termuda dan terkecil dalam sejarah Piala Dunia, jelas bukan lawan sepadan secara kualitas. Sebagian besar pemainnya berkarier di liga Belanda atau liga-liga kecil Eropa. Namun, pelatih veteran Dick Advocaat yang berusia 78 tahun—rekor pelatih tertua di Piala Dunia—justru menyambut antusias pertandingan ini. “Jerman tetap negara sepak bola besar. Memulai turnamen melawan mereka sangat fantastis. Kami akan langsung tahu di mana posisi kami,” ujar Advocaat.
Bagi Jerman, laga kontra Curacao bukan sekadar ujian teknis, melainkan juga momentum psikologis. Völler menegaskan bahwa target utama adalah memuncaki grup yang juga dihuni Ekuador dan Pantai Gading. “Kami ingin menjadi tim yang sulit dikalahkan. Lolos dari grup sebagai juara adalah tujuan yang tidak bisa ditawar,” katanya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kemenangan di laga pertama tidak menjamin kelancaran ke depan. “Tidak ada jaminan jika Anda menang di laga pertama, turnamen akan berjalan mulus. Kami harus bekerja keras.”
Dari perspektif Indonesia, pertandingan ini menarik karena memperlihatkan bagaimana tim besar seperti Jerman menghadapi tekanan ekspektasi. Bagi penggemar sepak bola Tanah Air, laga ini juga menjadi tontonan menarik untuk melihat sejauh mana kesenjangan kualitas antara raksasa Eropa dan tim non-unggulan. Curacao, meski dianggap underdog, memiliki semangat juang yang patut diapresiasi—sebuah narasi yang kerap ditemui di sepak bola Indonesia saat timnas menghadapi lawan-lawan kuat.
Pertandingan ini akan menjadi ujian pertama bagi Jerman untuk membuktikan bahwa kegagalan di dua edisi sebelumnya hanyalah masa lalu. Akankah mereka mampu memulai dengan gemilang, atau justru Curacao yang mencuri perhatian? Jawabannya akan terungkap di lapangan.
