FIFA Larang Jersey Haiti: Warisan Revolusi yang Terus Dibungkam
Baca dalam 60 detik
- FIFA memblokir jersey tim nasional Haiti yang memuat gambar Pertempuran Vertières, momen kunci kemerdekaan Haiti, karena dianggap bermuatan politik.
- Langkah ini melanjutkan tradisi panjang peredaman sejarah Revolusi Haiti, terutama terhadap tokoh radikal seperti Jean-Jacques Dessalines.
- Ironisnya, kontroversi justru meningkatkan popularitas jersey tersebut dan memicu diskusi global tentang warisan revolusi Haiti.

FIFA memaksa tim nasional sepak bola Haiti mengganti jersey mereka hanya beberapa saat sebelum laga perdana Piala Dunia 2026. Bukan karena masalah teknis atau taktik, melainkan karena gambar kecil di pinggang kanan jersey itu dianggap melanggar aturan larangan simbol politik. Gambar tersebut menampilkan sekelompok orang mengibarkan bendera Haiti, yang menurut juru bicara tim merepresentasikan Pertempuran Vertières dan para pahlawan kemerdekaan.
Pertempuran Vertières pada 18 November 1803 menjadi titik balik Revolusi Haiti—satu-satunya pemberontakan budak yang berhasil melahirkan negara merdeka. Tanggal itu juga bertepatan dengan lolosnya Haiti ke Piala Dunia untuk kedua kalinya dalam sejarah. Namun, FIFA tidak memberikan penjelasan rinci mengenai elemen mana yang dianggap bermasalah. Pengamat menduga sosok sentral dalam gambar itu, Jean-Jacques Dessalines, pemimpin revolusi yang kemudian menjadi kepala negara pertama Haiti, menjadi alasan utama pelarangan.
Dessalines selalu menjadi figur kontroversial. Dalam narasi sejarah yang ditulis oleh musuh-musuhnya, ia digambarkan sebagai pemimpin brutal dan haus darah. Propaganda Prancis pasca-kemerdekaan, seperti biografi karangan Louis Dubroca pada 1804, melukiskan Dessalines sebagai sosok licik, kasar, dan impulsif. Gambar yang menyertai terjemahan buku itu bahkan menunjukkan Dessalines memegang pedang dan kepala wanita kulit putih yang terpenggal. Citra ini sengaja dibangun untuk mendiskreditkan revolusi dan menakut-nakuti kekuatan kolonial lain.
Larangan FIFA ini bukan sekadar insiden terisolasi. Sejarawan Michel-Rolph Trouillot menyebut praktik semacam ini sebagai "pembungkaman" Revolusi Haiti—upaya sistematis untuk menghilangkan pencapaian Haiti dari ingatan kolektif dunia. Thomas Jefferson, misalnya, dalam surat-suratnya selalu menggambarkan revolusi Haiti sebagai kekacauan berdarah, bukan perjuangan kemerdekaan yang sah. Narasi itu berhasil membuat Haiti terisolasi secara diplomatik dan ekonomi selama puluhan tahun.
Menariknya, respons publik justru berbalik. Perusahaan Saeta yang merancang jersey kontroversial itu mengumumkan akan memproduksi ulang jersey tersebut setelah permintaan melonjak. Jersey tersebut menjadi favorit penggemar, dan banyak pihak justru semakin penasaran dengan sejarah di balik gambar yang dilarang. Fenomena ini menunjukkan bahwa upaya pembungkaman bisa menjadi bumerang, memicu rasa ingin tahu yang lebih besar.
Bagi Indonesia, kisah ini relevan sebagai pengingat bagaimana sejarah perjuangan kemerdekaan sering kali dipotong, dibungkam, atau didistorsi oleh kepentingan politik global. Sama seperti Haiti, narasi tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia juga kerap menghadapi upaya reduksi dari pihak-pihak yang tidak ingin melihat negara bekas jajahan berdiri tegak. Pertanyaannya, sejauh mana kita membiarkan simbol-simbol sejarah kita diatur oleh lembaga internasional yang mungkin tidak netral?


