BPJS Ketenagakerjaan dan Untad Kolaborasi Dorong Literasi Jaminan Sosial di Kampus
Baca dalam 60 detik
- BPJS Ketenagakerjaan dan Universitas Tadulako menandatangani nota kesepahaman untuk memperkuat sinergi Tridarma Perguruan Tinggi dalam literasi jaminan sosial.
- Kerja sama ini merupakan tindak lanjut Kurikulum Jaminan Sosial (Kurjamsos) yang diluncurkan pemerintah pada Agustus 2025.
- Target ke depan adalah melindungi seluruh ekosistem kampus, termasuk dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa magang, dan peserta kegiatan penelitian.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8257135/original/092629900_1781225126-5e947df2-61c9-4aa0-85d2-7b5a98ce3272.jpeg)
BPJS Ketenagakerjaan menggandeng Universitas Tadulako (Untad) untuk memperkuat literasi jaminan sosial di kalangan sivitas akademika melalui penandatanganan nota kesepahaman yang berlangsung di Palu, Kamis (11/6). Kerja sama ini tidak sekadar seremonial, melainkan menjadi fondasi bagi integrasi program jaminan sosial ke dalam tridarma perguruan tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Direktur Human Capital dan Umum BPJS Ketenagakerjaan, Harjono Siswanto, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah konkret menindaklanjuti Kurikulum Jaminan Sosial (Kurjamsos) yang dicanangkan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan pada Agustus 2025. Untad menjadi salah satu kampus yang dinilai memiliki komitmen tinggi dalam mengimplementasikan kurikulum tersebut, sehingga dipilih sebagai mitra strategis. "Kami memandang kampus sebagai mitra strategis untuk menanamkan pemahaman mengenai hak dan perlindungan pekerja sejak dini," ujar Harjono dalam sambutannya.
Rektor Untad, Prof. Amar, menyambut baik inisiatif ini. Menurutnya, kemitraan dengan BPJS Ketenagakerjaan membuka peluang bagi dunia akademik untuk berkontribusi langsung dalam pembangunan sistem perlindungan sosial yang inklusif. "Kami berharap MoU ini segera ditindaklanjuti dengan program-program yang berdampak nyata bagi masyarakat, seperti riset bersama, KKN tematik, dan pengabdian masyarakat berbasis jaminan sosial," ungkapnya.
Bagi Indonesia, kolaborasi ini memiliki arti strategis. Dengan jumlah pekerja informal yang masih mendominasi, literasi jaminan sosial sejak di bangku kuliah diharapkan mampu menekan angka ketidakpahaman akan hak perlindungan pekerja. Apalagi, Indonesia menargetkan generasi emas 2045 yang produktif dan terlindungi. Kepala Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Sulawesi Maluku, Suci Rahmad, menambahkan bahwa sinergi dengan Untad menjadi model bagi pengembangan literasi jaminan sosial di kawasan Indonesia Timur. "Kami ingin generasi muda memahami pentingnya perlindungan sebelum memasuki dunia kerja, sehingga mereka bisa menjadi pekerja yang produktif dan sejahtera," jelasnya.
Ke depan, BPJS Ketenagakerjaan menargetkan perlindungan menyeluruh di ekosistem kampus, tidak hanya bagi tenaga kontrak, tetapi juga dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa yang magang, dan peserta kegiatan pengabdian. Harjono menekankan bahwa visi jangka panjang lembaganya adalah seamless protection, di mana perlindungan sosial hadir secara otomatis di setiap tahap kehidupan. Pertanyaannya, mampukah model kolaborasi ini direplikasi ke ratusan perguruan tinggi lain di Indonesia untuk mempercepat terwujudnya ekosistem kerja yang aman dan terlindungi?



