UEA Siapkan Dana Segar untuk Rantai Pasok dan Bandara Bali, Ini yang Dikejar Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Indonesia mengincar komitmen investasi baru dari Uni Emirat Arab untuk memperkuat ketahanan pangan dan infrastruktur, termasuk pengembangan bandara di Bali.
- Abu Dhabi Export (ADEX) siap menanamkan modal di sektor agribisnis, sementara Abu Dhabi Ports (ADP) akan mengkaji kelayakan proyek bandara Bali.
- Kesepakatan ini diharapkan mempercepat realisasi I-UAE CEPA dan meningkatkan arus perdagangan bilateral yang selama ini didominasi energi dan logistik.
Pemerintah Indonesia kembali membuka pintu lebar bagi investasi Uni Emirat Arab (UEA) untuk memperkuat rantai pasok nasional, dengan fokus pada ketahanan pangan dan pembangunan infrastruktur strategis. Dalam pertemuan antara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Duta Besar UEA Abdulla Salem Al Dhaheri, Senin (15/6/2026), sejumlah komitmen investasi baru mengemuka, termasuk dari raksasa logistik Abu Dhabi Ports (ADP) yang berniat mengembangkan bandar udara di Bali.
Langkah ini bukan sekadar rutinitas diplomatik. Di tengah tekanan global terhadap rantai pasok pangan dan energi, Indonesia membutuhkan mitra yang tidak hanya membawa modal, tetapi juga akses ke jaringan distribusi internasional. UEA, melalui perusahaan seperti Louis Dreyfus Company (LDC) yang telah beroperasi 25 tahun di Indonesia, dianggap sebagai pintu masuk ke pasar Timur Tengah dan Afrika. "Kami mendorong peningkatan investasi yang mendukung hilirisasi, ketahanan pangan, dan penguatan rantai pasok nasional," ujar Airlangga dalam pernyataan resmi.
Data Kunci dari Pertemuan:
Bagi Indonesia, investasi ini memiliki arti strategis ganda. Pertama, dari sisi ketahanan pangan, kerja sama dengan ADEX diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor komoditas tertentu sekaligus membuka pasar ekspor baru bagi produk agribisnis dalam negeri. Kedua, rencana pengembangan bandara Bali oleh ADP menunjukkan bahwa UEA tidak hanya melihat Indonesia sebagai pasar, tetapi juga hub regional. Bali, sebagai pintu gerbang pariwisata, membutuhkan infrastruktur bandara yang mampu menampung lonjakan wisatawan pasca-pandemi.
Duta Besar UEA Abdulla Salem Al Dhaheri menegaskan bahwa negaranya memandang Indonesia sebagai mitra penting di Asia Tenggara. "Kami siap memperluas kerja sama di berbagai sektor ekonomi," katanya. Pernyataan ini menegaskan bahwa UEA serius menjadikan Indonesia sebagai basis investasi jangka panjang, terutama di sektor-sektor yang menjadi prioritas dalam Visi Indonesia Emas 2045.
Namun, tantangan tetap ada. Realisasi investasi seringkali terhambat oleh birokrasi dan ketidakpastian regulasi di Indonesia. Kedua negara sepakat untuk menjaga intensitas komunikasi dan meningkatkan kepastian usaha bagi investor strategis. Tanpa perbaikan iklim investasi yang signifikan, komitmen di atas kertas bisa saja menguap. Pertanyaannya, apakah pemerintah mampu mempercepat reformasi regulasi agar proyek-proyek prioritas seperti bandara Bali dan investasi pangan tidak hanya menjadi wacana?



