Lawrence Shankland: Penyerang yang Akhirnya Ditunggu Skotlandia
Baca dalam 60 detik
- Lawrence Shankland mencetak empat gol dalam 173 menit bersama timnas Skotlandia sejak Agustus 2024, setara satu gol setiap 43 menit.
- Perjalanan kariernya penuh liku, dari liga bawah Skotlandia hingga kini menjadi andalan di Piala Dunia 2026.
- Kedatangan Shankland mengubah formasi Skotlandia menjadi dua penyerang, memberikan dimensi baru dalam serangan.

Lawrence Shankland akhirnya menjadi jawaban atas kerinduan Skotlandia akan seorang penyerang haus gol. Dalam 173 menit penampilan bersama timnas sejak Agustus lalu, ia telah mengemas empat gol—setara satu gol setiap 43 menit. Catatan itu membuatnya layak disebut sebagai penyelesai peluang paling mematikan yang dimiliki Skotlandia dalam setengah abad terakhir.
Perjalanan Shankland menuju panggung terbesar sepak bola tidaklah mulus. Tiga belas tahun lalu, ia dan kapten Skotlandia Andy Robertson bermain bersama di Queen's Park, klub kasta keempat Liga Skotlandia. Saat itu, mereka hanya bisa bermimpi tentang Piala Dunia. Kini, Shankland menjadi pusat perhatian di skuad Steve Clarke yang bersiap menghadapi turnamen di Amerika Serikat.
Pelatih asisten Skotlandia, Steven Naismith, mengingat momen ketika Shankland masih ragu di level internasional. Dalam laga uji coba melawan Belanda pada Maret 2024, Shankland yang sedang dalam performa terbaiknya bersama Hearts justru memilih mengoper bola kepada Scott McTominay ketimbang melepaskan tembakan dari jarak 20 yard. "Saya langsung berpikir dia belum percaya diri di timnas," ujar Naismith. "Saya bilang padanya, 'Kamu ada di sini karena pelatih percaya kamu bisa mencetak gol. Jangan sia-siakan kesempatan itu.'"
Kepercayaan diri Shankland kini berubah drastis. Ia tidak lagi ragu untuk menjadi ujung tombak utama. Pelatih Steve Clarke bahkan mengubah formasi dari satu penyerang menjadi dua, memasangkan Shankland dengan Che Adams. Hasilnya, lini serang Skotlandia tampil lebih tajam dan variatif.
Karier Shankland penuh dengan pasang surut. Sebelum bersinar di Hearts, ia sempat gagal di Aberdeen, Beerschot (Belgia), dan bahkan harus bermain di kasta ketiga bersama Ayr United. Di Ayr, ia bertemu dengan manajer Ian McCall yang menjadi mentor dan sahabatnya. "Awalnya hubungan kami tidak mulus, tapi kemudian dia menjadi pemimpin di ruang ganti," kenang McCall. "Dia bisa mencetak gol dari berbagai cara: sundulan, kaki kiri, kaki kanan, tendangan melengkung, bahkan dari jarak 50 yard."
Shankland juga sempat mengalami musim sulit pada 2024-25, hanya mencetak sembilan gol untuk Hearts. Kontraknya menjadi sumber ketegangan, dengan rumor kepindahan ke Rangers yang tak kunjung terwujud. Namun, kedatangan Derek McInnes sebagai manajer mengubah segalanya. McInnes meyakinkan dewan klub untuk merekrut Shankland, dan hubungan keduanya langsung menghasilkan performa impresif.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Shankland mengingatkan pada perjuangan pemain lokal yang harus melalui jalan panjang untuk mencapai puncak. Seperti halnya pemain Indonesia yang kerap meniti karier dari liga bawah, Shankland membuktikan bahwa kerja keras dan ketekunan bisa mengantarkan seseorang ke panggung dunia. Jika Skotlandia mampu tampil mengejutkan di Piala Dunia 2026, nama Shankland pasti akan menjadi salah satu yang paling disorot.
Pertanyaan besarnya kini: bisakah Shankland mempertahankan ketajamannya di turnamen sebesar Piala Dunia? Dengan usia yang akan menginjak 31 tahun pada Agustus mendatang, mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya untuk bersinar di panggung terbesar. Namun, jika melihat perjalanan kariernya yang penuh liku, tidak ada yang mustahil bagi pria yang pernah bermain di kasta keempat Skotlandia itu.



