Krisis Pelatih Italia: Malagò Janji Pulihkan Kredibilitas, Reformasi Akademi Jadi Kunci
Baca dalam 60 detik
- FIGC akan segera menggelar diskusi setelah kegagalan menunjuk pelatih baru; Ancelotti, Guardiola, dan Pirlo menjadi kandidat yang gagal.
- Kekacauan ini memicu ancaman pengunduran diri direktur teknis Paolo Maldini dan penasihat Leonardo.
- Presiden Malagò menekankan reformasi jangka panjang pada akademi usia muda demi memulihkan kredibilitas sepak bola Italia.

Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Giovanni Malagò, berjanji akan segera berdialog dengan semua pemangku kepentingan untuk mengakhiri kekisruhan dalam pemilihan pelatih anyar tim nasional. Dalam wawancara dengan Il Sole 24 Ore yang dikutip Sky Sport Italia, ia mengakui bahwa kepercayaan publik terhadap institusi sepak bola Italia harus dipulihkan dari level tertinggi.
Proses penunjukan pelatih baru Gli Azzurri berubah menjadi saga berlarut. Carlo Ancelotti dan Pep Guardiola telah menolak tawaran, sementara Andrea Pirlo yang sempat dipilih akhirnya gugur akibat kontroversi perannya sebagai duta merek untuk perusahaan taruhan Rusia. Kini, beredar kabar bahwa direktur teknis Paolo Maldini dan penasihat khususnya Leonardo siap mundur hanya beberapa pekan setelah diberikan posisi yang dirancang khusus untuk mereka.
Malagò menegaskan bahwa pemilihan pelatih hanyalah satu bagian dari masalah yang lebih besar. Ia menyoroti perlunya reformasi menyeluruh sistem sepak bola Italia, terutama pada pembinaan akademi usia muda. "Kita harus memulihkan kredibilitas di level tertinggi, di mana tidak ada yang bisa dianggap remeh. Itu berarti bekerja dengan anak-anak yang kini berusia 13 hingga 16 tahun," ujarnya.
Menurut Malagò, perubahan ini membutuhkan waktu dan hasilnya tidak akan langsung terlihat. Ia menekankan pentingnya memodifikasi rantai pasokan akademi sepak bola dari segi pembentukan dan budaya, yang secara otomatis memengaruhi kualitas pelatih. "Ini soal menabur benih, tetapi kami memiliki gagasan yang sangat jelas," tambahnya.
"Kita harus memulihkan kredibilitas di level tertinggi, di mana tidak ada yang bisa dianggap remeh." – Giovanni Malagò, Presiden FIGC
Keengganan Maldini dan Leonardo untuk mundur ke opsi seperti Antonio Conte atau Roberto Mancini – yang sudah pernah menangani Italia – mencerminkan keinginan untuk tidak kembali ke masa lalu. Keduanya lebih mendukung pendekatan reformasi jangka panjang daripada solusi instan yang dinilai tidak akan memperbaiki akar masalah.
Krisis ini mengingatkan pada situasi yang kerap dihadapi federasi sepak bola di negara lain, termasuk Indonesia. PSSI pun tengah berupaya membenahi pembinaan usia muda dan mencari figur pelatih yang tepat untuk timnas. Namun, tanpa reformasi sistemik dan konsistensi kebijakan, masalah serupa berpotensi terulang. Bagi Italia, langkah ke depan akan menentukan apakah tradisi sepak bola mereka mampu bangkit dari keterpurukan setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2022.
Pertanyaan besarnya, apakah FIGC benar-benar mampu mengubah paradigma pembinaan atau hanya akan terjebak dalam pusaran kepentingan sesaat? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan saat mereka mulai menanam benih untuk generasi emas berikutnya.



