Aktor Marvel Desak Inggris Blokir Merger Paramount-Warner Bros: Ancaman PHK dan Monopoli Konten
Baca dalam 60 detik
- Benedict Cumberbatch dan rekan aktor menekan Menteri Kebudayaan Inggris untuk menghentikan merger Paramount dan Warner Bros karena dinilai mengancam pekerja dan keberagaman konten.
- Di AS, 12 negara bagian menggugat merger tersebut, dan Paramount sepakat menunda penyelesaian hingga putusan pengadilan antimonopoli.
- Para aktor memperingatkan bahwa sinergi senilai 6 miliar dolar AS justru akan memicu PHK massal, bukan efisiensi yang sehat.

Tiga aktor papan atas Hollywood yang juga dikenal sebagai bintang Marvel, Benedict Cumberbatch, Alan Cumming, dan Benedict Wong, secara terang-terangan menentang rencana penggabungan dua perusahaan media raksasa, Paramount dan Warner Bros. Dalam sebuah pernyataan terbuka yang ditujukan kepada Menteri Kebudayaan Inggris Lisa Nandy, mereka mendesak agar pemerintah Britania Raya menggunakan kewenangannya untuk menghentikan merger tersebut dengan alasan kepentingan publik.
Para aktor tersebut menilai bahwa integrasi Paramount dan Warner Bros akan memicu gelombang pengurangan tenaga kerja di sektor produksi, penghentian sejumlah proyek kreatif, serta menyusutnya pendanaan untuk film-film independen. Tidak hanya itu, mereka juga khawatir merger ini akan menghilangkan stasiun penyiaran layanan publik yang selama ini menjadi pilar keberagaman konten di Inggris. "Inggris sedang terancam oleh penggabungan media yang akan merugikan pekerja, budaya, dan masyarakat kita, tetapi kita dapat menghentikannya," tulis mereka dalam sebuah artikel yang dikutip dari The Hollywood Reporter.
Langkah para aktor ini menambah daftar panjang perlawanan terhadap merger yang bernilai fantastis. Di Amerika Serikat, 12 negara bagian yang dipimpin California telah menggugat kesepakatan tersebut di pengadilan federal. Mereka berargumen bahwa jika merger terjadi, harga layanan streaming akan naik, jumlah produksi film baru berkurang, dan kualitas konten yang dinikmati penonton akan menurun drastis. Sementara itu, Paramount pihak Larry Ellison telah setuju untuk tidak menyelesaikan pengambilalihan hingga ada keputusan pengadilan mengenai dugaan pelanggaran undang-undang antimonopoli.
Bagi Indonesia, perkembangan merger ini patut dicermati. Industri film dan televisi nasional sangat bergantung pada distribusi konten global, baik melalui bioskop maupun platform digital. Jika Paramount dan Warner Bros bergabung, mereka akan menguasai pangsa pasar yang sangat besar, berpotensi mengurangi jumlah tayangan alternatif yang masuk ke Indonesia. Distributor lokal dan rumah produksi independen mungkin akan kesulitan bersaing karena akses terbatas ke katalog raksasa baru ini. Selain itu, kebijakan lisensi konten bisa menjadi kurang kompetitif, berdampak pada harga yang dibayar konsumen Indonesia.
Para aktor yang sudah lama berkecimpung di industri ini menyadari betul bahwa motif di balik merger adalah untuk menyelesaikan masalah utang Warner Bros yang mencapai 84 miliar dolar AS. Dengan menjanjikan efisiensi senilai 6 miliar dolar AS kepada investor, para eksekutif diprediksi akan melakukan pengurangan karyawan secara besar-besaran. "Justru itulah yang membuat merger Paramount-WBD begitu berbahaya," tegas mereka. Cumberbatch dan kawan-kawan memuji langkah Menteri Nandy yang memiliki kewenangan mempertimbangkan aspek kepentingan publik. Mereka menyebut bahwa keputusan untuk campur tangan bisa menjadi salah satu yang terpenting dalam satu generasi bagi film, televisi, dan media Inggris.
Ke depan, pertarungan hukum dan politik di dua negara ini akan menentukan nasib merger. Jika Inggris turut memblokir, kesepakatan bisa gagal total. Namun sebaliknya, jika lolos, konsolidasi industri media akan semakin mengerucut, meninggalkan sedikit ruang bagi pemain independen. Pertanyaannya, akankah regulator Indonesia mengambil sikap serupa untuk melindungi keberagaman konten di pasar domestik?


