Graham Potter Bangkit dari Keterpurukan: Timnas Swedia Hajar Tunisia 5-1 di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Graham Potter memulai debut Piala Dunia bersama Swedia dengan kemenangan telak 5-1 atas Tunisia, setelah sebelumnya dipecat dari West Ham dan Chelsea.
- Duet maut Alexander Isak dan Viktor Gyokeres menjadi kunci kemenangan, mencetak gol dan saling assist, menunjukkan potensi besar Swedia di turnamen ini.
- Kontrak Potter diperpanjang hingga 2030, menandai kepercayaan penuh Federasi Swedia terhadap proyek jangka panjangnya setelah sukses di masa lalu bersama Ostersunds.

Graham Potter, pelatih asal Inggris yang sempat diragukan kemampuannya setelah dua kali dipecat dalam waktu singkat, kini menuai pujian setelah membawa Timnas Swedia menggilas Tunisia 5-1 pada laga perdana Grup F Piala Dunia 2026 di Estadio Monterrey, Meksiko. Kemenangan ini menjadi bukti bahwa Potter mampu bangkit dan kembali bersinar di panggung sepak bola dunia.
Potter, yang dipecat West Ham pada September lalu setelah hanya meraih enam kemenangan dalam 23 pertandingan Premier League, sebelumnya juga gagal di Chelsea. Namun, ia mendapat kesempatan kedua saat menangani Swedia pada Oktober lalu. Meskipun gagal membawa Swedia lolos otomatis setelah finis dasar grup kualifikasi tanpa satu pun kemenangan, Potter berhasil membawa timnya melewati babak play-off berkat peringkat UEFA Nations League, mengalahkan Ukraina dan Polandia.
Kemenangan telak atas Tunisia menjadi sinyal kebangkitan Potter. Lima gol Swedia—lebih banyak dari total gol mereka di seluruh fase grup kualifikasi—menunjukkan efektivitas serangan yang dibangunnya. Duet Alexander Isak (Liverpool) dan Viktor Gyokeres (Arsenal) menjadi mimpi buruk bagi pertahanan Tunisia. Keduanya saling memberikan assist dan mencetak gol, menunjukkan chemistry yang mematikan.
Potter sendiri mengaku merasa seperti orang Swedia. Dalam wawancara sebelum turnamen, ia mengatakan, "Saya merasa sangat Swedia saat bekerja. Dua anak saya lahir di Swedia. Saya menghabiskan tujuh tahun tak terlupakan di Ostersunds, dari divisi keempat hingga ke Allsvenskan." Pengalaman itu membentuk gaya kepelatihannya yang kini diterapkan di tim nasional. Ia bahkan memperpanjang kontrak hingga 2030, menunjukkan komitmen jangka panjang.
Namun, tantangan sesungguhnya baru akan dimulai. Swedia akan menghadapi Belanda, salah satu favorit juara, pada pertandingan berikutnya. "Kami hanya fokus pada performa kami sendiri," ujar Potter. "Tidak masalah apa yang orang pikirkan. Keindahan Piala Dunia adalah setiap orang punya prediksi, tapi kami harus fokus pada pekerjaan kami."
Bagi Indonesia, kebangkitan Potter menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kesabaran dan kepercayaan terhadap pelatih. Di tengah budaya sepak bola yang kerap instan, kisah Potter menunjukkan bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan awal dari pembuktian. Jika Swedia mampu melaju jauh, Potter akan menjadi simbol bahwa pelatih yang pernah jatuh bisa bangkit lebih kuat.
Dengan format baru Piala Dunia 2026 yang memperbanyak jumlah peserta, Swedia kini berada di posisi yang baik untuk melaju ke babak 32 besar. Pertanyaan besarnya: mampukah Potter mengulang sukses Ostersunds di panggung yang lebih besar? Atau justru Belanda akan menjadi batu sandungan pertamanya?


