Persis Solo Rekrut Mantan Analis Timnas, Siapkan Revolusi Data di Semua Lini
Baca dalam 60 detik
- Persis Solo menunjuk Rochmat Setiawan sebagai kepala departemen analisis, membawa pengalaman dari Persebaya dan timnas junior Indonesia.
- Departemen ini akan mengintegrasikan data akademi dan tim senior, serta menggunakan video analisis untuk evaluasi pemain.
- Langkah ini menandai komitmen Persis dalam mengadopsi sepak bola modern berbasis data untuk meningkatkan kualitas keputusan klub.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8257018/original/029701600_1781184141-1000121159.jpg)
Persis Solo resmi menunjuk Rochmat Setiawan sebagai Kepala Departemen Analisis, sebuah langkah strategis untuk memperkuat fondasi teknis klub dengan pendekatan berbasis data. Mantan analis Timnas Indonesia U-19 dan U-23 ini diharapkan mampu membawa perubahan signifikan dalam pengambilan keputusan di semua level tim, mulai dari scouting hingga pembinaan pemain muda.
Rochmat bukanlah nama baru di kancah sepak bola Indonesia. Sebelum bergabung dengan Laskar Sambernyawa, ia menghabiskan tiga tahun sebagai Kepala Departemen Analisis di Persebaya Surabaya, di mana ia turut membangun sistem analisis tim. Pengalamannya bersama tim nasional junior membuatnya memiliki pemahaman mendalam tentang pengembangan pemain usia dini, sebuah aspek yang kini menjadi fokus utama Persis.
Dalam struktur baru ini, departemen analisis tidak hanya bertugas untuk tim senior. Rochmat menegaskan bahwa peran mereka akan merambah ke scouting, manajemen, dan akademi. βKami mencoba menyuplai data ke banyak posisi di klub, sehingga setiap keputusan yang diambil lebih berkualitas,β ujarnya. Integrasi data antara akademi dan tim senior menjadi prioritas, agar terjadi sinkronisasi dalam pengembangan pemain dari usia muda hingga level utama.
Pendekatan visual menjadi salah satu inovasi yang akan diterapkan. Selain data statistik, tim analisis akan memanfaatkan video untuk mengevaluasi kualitas dan karakter pemain. βKami akan mulai memakai data video, melihat bagaimana permainannya, sehingga mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang pemain yang dibutuhkan,β jelas Rochmat. Metode ini memungkinkan klub untuk menilai aspek teknis dan taktis yang tidak selalu tercermin dalam angka.
Langkah Persis ini mencerminkan tren global di mana klub-klub sepak bola semakin mengandalkan analisis data untuk meraih keunggulan kompetitif. Di Indonesia, adopsi teknologi serupa masih relatif baru, namun mulai diikuti oleh beberapa klub Liga 1. Bagi Persis, investasi di departemen analisis diharapkan dapat mempercepat pengembangan tim dan menciptakan ekosistem klub yang lebih profesional.
βAda banyak faktor yang berperan untuk membuat sebuah tim bisa mencapai kemenangan. Selain data, tentu saja dari manajemen, pemain, pelatih, suporter, dan ekosistem klub itu sendiri,β pungkas Rochmat.
Ke depan, keberhasilan inisiatif ini akan sangat tergantung pada bagaimana data yang dihasilkan dapat diintegrasikan ke dalam keputusan sehari-hari, mulai dari rekrutmen pemain hingga strategi pertandingan. Apakah Persis mampu menjadi pionir dalam penggunaan analisis data di Liga 1? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa musim ke depan.



