Dua Kubu Keraton Solo Gelar Kirab 1 Suro Bersamaan, Wali Kota Diminta Jadi Penengah
Baca dalam 60 detik
- Dua kelompok internal Keraton Kasunanan Surakarta, yaitu kubu PB XIV Purbaya dan PB XIV Mangkubumi, akan menggelar Kirab Malam 1 Suro secara terpisah pada 16 Juni 2025.
- Wali Kota Solo Respati Ardi diminta oleh tokoh keraton untuk memediasi kedua kubu, namun ia memilih bersikap netral dan fokus pada pengamanan serta kelancaran acara.
- Pemkot Solo telah berkoordinasi dengan TNI dan Polri untuk mengamankan jalannya tradisi yang juga diharapkan dapat mendongkrak pariwisata dan ekonomi lokal.

Dua kubu di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat akan menggelar Kirab Malam 1 Suro secara bersamaan pada Selasa (16/6) malam, memicu kekhawatiran akan potensi gesekan dan mendorong Wali Kota Solo, Respati Ardi, untuk turun tangan sebagai penengah.
Kubu Paku Buwono (PB) XIV Purbaya dan PB XIV Mangkubumi sama-sama mengklaim sebagai pemegang otoritas tradisi kirab pusaka yang rutin digelar setiap tahun. Situasi ini memunculkan dinamika internal yang rumit, mengingat kedua kelompok memiliki basis pendukung dan agenda acara yang identik. Pelaksana Pelestari, Pengembangan dan Pemanfaatan Keraton Solo, KPH Panembahan Agung Tedjowulan, secara terbuka meminta Respati untuk mengakomodasi pertemuan antara kedua pihak sebelum hari H.
Menanggapi desakan tersebut, Respati menegaskan bahwa pemerintah kota berada dalam posisi netral. Ia tidak akan memihak salah satu kubu, melainkan bertindak sebagai fasilitator yang memastikan tradisi berjalan khidmat, aman, dan tertib. “Bagi kami, yang utama adalah bagaimana tradisi 1 Suro tetap berlangsung khidmat, aman, dan tertib. Kami menghormati dinamika yang ada di internal Keraton Kasunanan,” ujarnya dalam siaran pers, Kamis (11/6). Pemerintah Kota, lanjutnya, bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) akan memfokuskan diri pada pengamanan, pengaturan lalu lintas, dan kenyamanan masyarakat.
Respati menambahkan bahwa koordinasi dengan aparat keamanan, termasuk TNI dan Polri, telah dilakukan untuk mengantisipasi kemacetan dan potensi gangguan. Ia berharap kirab tahun ini tidak hanya menjadi ritual spiritual, tetapi juga mendatangkan manfaat ekonomi bagi Kota Solo. “Kirab 1 Suro juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pariwisata. Saya berharap banyak tamu-tamu yang akan hadir di Kota Solo,” katanya.
Sebelumnya, Tedjowulan mengusulkan agar rapat mediasi digelar pada Sabtu (13/6) atau Minggu (14/6). Ia mengaku telah menerima banyak masukan dan analisis dari berbagai pihak, sehingga mendesak Wali Kota untuk mengundang semua elemen terkait, termasuk perwakilan dari kedua kubu. “Dari saya sama Gusti Wandansari nanti, dari pihak-pihak lain yang terkait dengan masalah keraton ini,” ujarnya di Keraton Solo, Rabu (9/6). Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian apakah pertemuan tersebut benar-benar terlaksana.
Kirab Malam 1 Suro merupakan tradisi tahunan yang sarat makna spiritual bagi masyarakat Solo dan sekitarnya. Namun, dualisme kepemimpinan di Keraton Solo yang telah berlangsung bertahun-tahun kerap menimbulkan ketegangan, terutama saat acara-acara besar. Langkah Wali Kota untuk tidak memihak dapat dimaknai sebagai upaya menjaga netralitas pemerintah, namun juga berisiko membuat mediasi tidak efektif jika kedua kubu tetap ngotot pada posisi masing-masing. Pertanyaannya, akankah tradisi tahun ini berlangsung damai tanpa campur tangan langsung dari pemkot?



