Bentrokan Warnai Aksi Protes G7 di Jenewa: 20.000 Orang Turun ke Jalan
Baca dalam 60 detik
- Polisi anti huru-hara melepaskan gas air mata dan water cannon saat demonstran melempar batu dalam aksi menentang KTT G7 di Jenewa, sehari sebelum pertemuan para pemimpin negara kaya.
- Sekitar 20.000 pengunjuk rasa, termasuk 600 militan Black Bloc, terlibat dalam bentrokan yang merusak properti seperti mobil Tesla dan bank, mengingatkan pada kerusuhan KTT 2003.
- Aksi ini menyoroti kemarahan global terhadap kebijakan Trump dan G7, dengan implikasi bagi Indonesia sebagai negara berkembang yang kerap menyuarakan ketidaksetaraan global.

Bentrokan keras pecah di pusat kota Jenewa pada Minggu (15/6) ketika ribuan demonstran menentang penyelenggaraan KTT G7 yang digelar di Evian-les-Bains, Prancis, hanya beberapa kilometer dari perbatasan Swiss. Polisi anti huru-hara melepaskan gas air mata dan water cannon untuk membubarkan massa yang melempar batu, membakar mobil, dan merusak sejumlah bangunan komersial. Aksi ini menjadi ujian bagi aparat keamanan yang telah menyiagakan ribuan personel di dua negara.
Menurut juru bicara kepolisian Jenewa, Alexandre Brahier, sekitar 20.000 orang ambil bagian dalam pawai yang sebagian besar berlangsung damai. Namun, sekitar 600 militan dari kelompok Black Bloc—yang dikenal dengan pakaian hitam dan wajah tertutup—menyusup ke dalam kerumunan dan memicu kekerasan. Sebuah mobil Tesla dibakar di dekat halte bus pusat, sementara jendela Banque du Leman dihancurkan setelah pagar pembatas kayu dirobohkan. Bentrokan berlanjut hingga malam hari meskipun polisi telah memerintahkan pembubaran.
Mayoritas peserta aksi justru berasal dari kalangan aktivis perempuan, lingkungan, dan pendukung Palestina. Mereka membawa spanduk mengecam patriarki, kesenjangan upah, serta kebijakan Presiden AS Donald Trump yang dianggap agresif. Seorang juru bicara koalisi NoG7, Francoise Nyffeler, menyatakan ketakutannya terhadap kebijakan para pemimpin G7 yang dinilai terus memicu perang dan mengabaikan krisis iklim. “Planet ini dalam bahaya, dan kami ingin menyuarakan bahwa rakyat dunia menolak kebijakan mereka,” ujarnya.
KTT G7 tahun ini berlangsung di tengah ketegangan global yang memuncak. Selain perang di Ukraina dan Timur Tengah, isu tarif dagang serta konflik dengan Iran menjadi agenda utama. Menariknya, Amerika Serikat dan Iran dikabarkan hampir mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz. Para pemimpin negara seperti India, Kenya, dan Ukraina juga diundang untuk bergabung dalam diskusi.
Bagi Indonesia, aksi protes ini mengingatkan pada dinamika hubungan antara negara berkembang dan negara maju. Sebagai anggota G20 dan sering menjadi juru bicara negara Selatan, Indonesia kerap menyuarakan ketidaksetaraan akses terhadap sumber daya mineral kritis dan pendanaan iklim. Ketiadaan suara Indonesia di meja G7—meski diundang sebagai tamu—menunjukkan kesenjangan representasi yang masih lebar dalam tata kelola global. Ke depan, apakah aksi massa seperti ini akan mendorong perubahan kebijakan yang lebih inklusif, atau justru memperkuat polarisasi antara elit global dan rakyat?



