Tiga Kartu Merah di Laga Pembuka: Isyarat Kembalinya Era Disiplin Ketat di Piala Dunia 2026?
Baca dalam 60 detik
- Laga Meksiko vs Afrika Selatan di Piala Dunia 2026 mencatat tiga kartu merah, menyamai total kartu merah dua edisi sebelumnya hanya dalam satu pertandingan.
- Kebijakan wasit Pierluigi Collina yang fokus pada perilaku pemain dan penghentian waktu dinilai menjadi pemicu lonjakan hukuman, bukan sekadar kebetulan.
- Jika tren ini berlanjut, turnamen 104 pertandingan berpotensi mencatat rekor baru kartu merah, mengubah wajah permainan yang sebelumnya lebih longgar.

Piala Dunia 2026 baru saja dimulai, namun satu catatan sudah terukir: tiga kartu merah dalam laga pembuka antara Meksiko dan Afrika Selatan, Kamis lalu. Jumlah ini menyamai total kartu merah yang dikeluarkan sepanjang turnamen di Rusia 2018 dan Qatar 2022. Pertanyaannya, apakah ini pertanda kembalinya era di mana wasit tak segan mengeluarkan kartu merah?
Dua dekade lalu, tepatnya pada Piala Dunia 2006, tiga pemain diusir dalam satu pertandingan. Kala itu, total 28 kartu merah dikeluarkan sepanjang turnamen, termasuk empat kartu merah dalam satu laga antara Portugal dan Belanda. Setelah Pierluigi Collina diangkat sebagai kepala wasit FIFA pada 2017, pendekatan wasit berubah drastis. Collina menekankan bahwa keputusan harus adil bagi kedua tim, dan pemain hanya boleh diusir jika benar-benar melakukan pelanggaran berat. Akibatnya, jumlah kartu merah di dua edisi terakhir turun drastis menjadi hanya empat per turnamen.
Namun, laga pembuka kali ini seolah membalikkan tren. Yaya Sithole dari Afrika Selatan menjadi pemain pertama yang diusir setelah menjatuhkan Brian Gutierrez yang sedang dalam posisi mencetak gol. Keputusan wasit Wilton Sampaio dianggap tepat karena Sithole jelas menghalangi peluang gol lawan. Kartu merah kedua jauh lebih kontroversial. Themba Zwane diusir setelah VAR meninjau aksinya saat beradu fisik dengan Roberto Alvarado. Wasit menilai Zwane melakukan kekerasan, meskipun tayangan ulang menunjukkan tangannya terbuka, bukan mengepal. Banyak pihak menilai keputusan ini terlalu keras dan tidak sesuai dengan semangat VAR yang seharusnya hanya mengoreksi kesalahan nyata dan jelas.
Kartu merah ketiga, yang diterima Cesar Montes, juga terkait dengan pelanggaran menghalangi peluang gol. Khuliso Mudau berlari menuju kotak penalti, dan Montes melakukan tekel ceroboh. Meskipun Mudau berada di posisi agak melebar, wasit tetap mengeluarkan kartu merah. Perbandingan dengan insiden di Liga Inggris musim lalu menunjukkan bahwa keputusan serupa bisa berbeda: wasit Jarred Gillett memberikan kartu kuning untuk pelanggaran yang hampir identik, namun panel insiden kemudian menilai seharusnya kartu merah. Hal ini menunjukkan bahwa interpretasi wasit masih menjadi faktor kunci.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, fenomena ini menarik dicermati. Di kompetisi domestik seperti Liga 1, penggunaan VAR masih terbatas dan sering menuai kontroversi. Jika FIFA mendorong pendekatan yang lebih ketat terhadap perilaku pemain, bukan tidak mungkin standar ini akan diadopsi di Asia Tenggara. Selain itu, tim nasional Indonesia yang tengah berjuang menembus Piala Dunia harus mewaspadai perubahan ini, karena disiplin pemain menjadi semakin krusial.
Collina sendiri, dalam pengarahan sebelum turnamen, lebih fokus pada pemborosan waktu dan perilaku pemain secara umum. Ia tidak secara khusus menyerukan peningkatan kartu merah. Namun, insiden Zwane menunjukkan bahwa wasit dan VAR kini lebih sensitif terhadap kontak fisik di luar bola, terutama yang dianggap sebagai perilaku buruk. Collina bahkan telah menerapkan kartu merah untuk pemain yang menutup mulut saat konfrontasi atau meninggalkan lapangan sebagai protes.
Apakah tiga kartu merah di laga pembuka ini merupakan anomali atau awal dari tren baru? Dengan 104 pertandingan tersisa, terlalu dini untuk menyimpulkan. Namun, jika wasit terus mempertahankan standar ketat ini, Piala Dunia 2026 bisa menjadi turnamen dengan jumlah kartu merah tertinggi dalam dua dekade terakhir. Para pemain dan pelatih harus segera beradaptasi, atau risiko kehilangan pemain kunci di laga-laga krusial akan semakin besar.



