Comeback Bersejarah: Knicks Balikkan Keunggulan 29 Poin Spurs di Final NBA
Baca dalam 60 detik
- New York Knicks mencatat comeback terbesar dalam sejarah Final NBA dengan membalikkan defisit 29 poin melawan San Antonio Spurs.
- Kemenangan 107-106 di Madison Square Garden memberi Knicks keunggulan 3-1, hanya selangkah lagi mengakhiri puasa gelar sejak 1973.
- Legenda NBA Charles Barkley mengecam Spurs sebagai tim terbodoh dalam sejarah karena gagal mempertahankan keunggulan besar.

New York Knicks mencatatkan comeback terbesar dalam sejarah Final NBA setelah membalikkan defisit 29 poin untuk mengalahkan San Antonio Spurs 107-106 di Madison Square Garden, Jumat (13/6) waktu setempat. Kemenangan dramatis ini membawa Knicks unggul 3-1 dalam seri best-of-seven dan hanya butuh satu kemenangan lagi untuk merebut gelar juara pertama mereka sejak 1973.
Spurs memimpin 76-49 saat turun minum, keunggulan terbesar untuk tim tamu dalam sejarah Final. Namun, mereka hanya mampu mencetak 30 poin di babak kedua. OG Anunoby, pemain kelahiran London, menjadi pahlawan dengan tip-in pada detik-detik akhir setelah blok krusialnya sebelumnya menggagalkan upaya Spurs memperlebar skor. Jalen Brunson, yang mencetak 36 poin, menjadi motor kebangkitan Knicks.
Legenda NBA Charles Barkley, yang kini menjadi analis ESPN, melontarkan kritik pedas terhadap Spurs. "Itu adalah basket yang paling salah kelola dan terbodoh yang pernah saya lihat. Ketika Anda membuang keunggulan 29 poin, tim lain harus membantu, dan San Antonio Spurs membantu New York Knicks memenangkan pertandingan ini," ujar Barkley. Pernyataan ini menjadi sorotan karena datang dari salah satu ikon NBA.
Victor Wembanyama, yang dinobatkan sebagai Defensive Player of the Year, mengakui timnya kehilangan fokus. "Saya tidak bisa menjelaskannya sekarang. Mungkin soal eksekusi, keserakahan. Kami jelas tidak lapar di babak kedua," kata pemain asal Prancis itu. Spurs kini menghadapi tekanan besar untuk memenangkan pertandingan kelima di kandang sendiri pada Minggu (15/6) dini hari WIB.
Bagi penggemar NBA di Indonesia, laga ini menjadi tontonan yang menegangkan. Knicks, yang identik dengan kota New York dan budaya pop, memiliki basis penggemar yang besar di Tanah Air. Keberhasilan mereka mendekati gelar juara setelah setengah abad menjadi cerita inspiratif tentang kegigihan. Sementara itu, Spurs dengan Wembanyama sebagai bintang muda, masih punya peluang untuk membalikkan keadaan meskipun sejarah menunjukkan hanya satu tim yang pernah bangkit dari ketertinggalan 3-1 di Final NBA.
Pertanyaan besarnya: mampukah Spurs belajar dari kesalahan dan memperpanjang seri, atau akankah Knicks mengakhiri penantian panjang mereka di San Antonio? Semua akan terjawab dalam laga kelima yang diprediksi berlangsung sengit.



