Knicks Bungkam Spurs di Final NBA: Comeback Dramatis dan Rekor Beruntun
Baca dalam 60 detik
- New York Knicks membalikkan defisit 14 poin di kuarter ketiga untuk menang 105-95 atas San Antonio Spurs di laga perdana Final NBA.
- Kemenangan ini merupakan ke-12 beruntun Knicks di postseason, menyamai rekor terbaik kedua sepanjang masa milik Spurs (1999).
- Knicks berpeluang merebut gelar juara pertama sejak 1973, sementara Spurs harus memperbaiki performa bintang mudanya, Victor Wembanyama.

New York Knicks memulai petualangan mereka di Final NBA 2025 dengan kemenangan dramatis. Bertandang ke markas San Antonio Spurs, tim tamu berhasil membalikkan keadaan tertinggal 14 poin di kuarter ketiga untuk menutup laga dengan skor 105-95, Rabu (5/6) waktu setempat. Kemenangan ini tidak hanya menempatkan Knicks unggul 1-0 di final best-of-seven, tetapi juga memperpanjang rekor kemenangan beruntun mereka di postseason menjadi 12 laga.
Jalen Brunson menjadi motor kebangkitan Knicks. Guard andalan New York itu mencetak 13 dari total 30 poinnya di kuarter pamungkas. Ketika pertandingan memasuki dua menit terakhir, Knicks melesat dengan 11 poin beruntun tanpa balasan, memastikan Spurs tidak mampu mengejar ketertinggalan. Performa Brunson menjadi bukti ketangguhan mental tim asuhan Tom Thibodeau yang telah beberapa kali menunjukkan kemampuan bangkit dari keterpurukan.
Statistik mencatat, ini adalah keempat kalinya di playoff musim ini Knicks menang setelah tertinggal 10 poin atau lebih di babak kedua. Sebelumnya, mereka bahkan membalikkan defisit 22 poin saat menghadapi Cleveland Cavaliers di final Wilayah Timur. "Kami mencerminkan para penggemar kami—gaya hidup dan perjuangan untuk sukses di New York City," ujar Karl-Anthony Towns, yang menyumbang 18 poin dan 12 rebound, kepada wartawan usai pertandingan.
Di kubu Spurs, bintang muda Victor Wembanyama tampil di bawah standar. Meski menjadi pencetak skor terbanyak tim, ia hanya berhasil mengonversi 6 dari 21 percobaan tembakan. "Saya tampil buruk, tidak lebih rumit dari itu. Saya tidak khawatir sedikit pun," kata Wembanyama dengan nada percaya diri. Namun, kegagalan pemain setinggi 2,24 meter ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pelatih Gregg Popovich jika ingin menyamakan kedudukan di laga kedua.
Bagi penggemar bola basket di Indonesia, Final NBA tahun ini menyajikan narasi menarik: kebangkitan tim tradisional melawan keperkasaan bintang muda. Knicks, yang terakhir kali juara pada 1973, kini di ambang mengakhiri puasa gelar selama 52 tahun. Sementara Spurs, dengan Wembanyama sebagai ikon baru, berusaha membuktikan bahwa masa depan sudah tiba. Pertandingan kedua akan berlangsung di San Antonio pada Jumat (7/6), sebelum seri pindah ke Madison Square Garden untuk gim ketiga.
Akankah Knicks mampu mempertahankan momentum? Atau Spurs akan bangkit dengan penyesuaian taktik? Jawabannya akan mulai terlihat dalam dua hari ke depan.



