Api Padam, Bara Mengintai: 4,5 Hektare Lahan Gunung Ringgit Hangus Terbakar
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran hutan di Gunung Ringgit, Probolinggo, melalap area seluas 4,5 hektare dan berhasil dipadamkan setelah dua hari penanganan.
- Meski api sudah tak terlihat, tim gabungan masih disiagakan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru akibat angin dan bara.
- Musim kemarau menjadi pemicu utama kebakaran, dengan vegetasi kering yang mudah terbakar di kawasan tersebut.

Kebakaran hutan dan lahan di lereng Gunung Ringgit, Kabupaten Probolinggo, berhasil dipadamkan setelah menghanguskan area seluas 4,5 hektare, namun tim gabungan masih disiagakan mengingat potensi api susulan di tengah musim kemarau.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Probolinggo Oemar Sjarief mengonfirmasi bahwa berdasarkan pemantauan pada Senin pagi, tidak ditemukan lagi titik api di lokasi kebakaran yang berada di Desa Sapikerep. Meski demikian, personel Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD bersama TNI, Polri, dan warga setempat tetap berjaga di titik pengamatan Dusun II Kedampul.
โHasil pemantauan pada Minggu pukul 21.30 WIB menunjukkan api sudah tidak terpantau. Ini menandakan kebakaran mulai terkendali, tetapi kami tidak boleh lengah,โ ujar Oemar saat dihubungi, Senin (27/7). Ia menambahkan, perubahan arah angin dan bara api yang tersisa masih berpotensi memicu kebakaran kembali.
Vegetasi yang terbakar didominasi rumput kering, semak belukar, dan pepohonan yang rentan terbakar akibat kondisi cuaca panas yang melanda Jawa Timur dalam beberapa pekan terakhir. Data dari BMKG menunjukkan bahwa musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dari biasanya, meningkatkan risiko karhutla di sejumlah daerah.
Bagi Indonesia, kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar bencana ekologis, melainkan juga ancaman ekonomi dan kesehatan. Kabupaten Probolinggo sendiri merupakan salah satu daerah rawan karhutla di Jawa Timur, dengan banyak lahan kritis dan hutan lindung yang rentan terbakar. Kolaborasi lintas instansi seperti yang dilakukan BPBD, TNI, Polri, dan masyarakat menjadi kunci dalam penanganan cepat.
Oemar mengapresiasi sinergi yang terbangun sejak awal kejadian. โKerja sama ini memungkinkan kami memantau perkembangan secara real-time dan mengambil langkah antisipatif jika muncul titik api baru,โ katanya. Ia juga mengimbau warga untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, seperti membakar sampah atau lahan di musim kemarau.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan area yang terbakar tidak kembali menyala. Dengan kondisi angin kencang dan kelembapan rendah, bara yang tersisa bisa menjadi sumber api baru. Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan daerah cukup untuk menghadapi musim kemarau yang diprediksi berlangsung hingga dua bulan ke depan.



