Kisah di Balik Gelar Piala Dunia 2017: Saat Inggris Bangkit dari Keraguan
Baca dalam 60 detik
- Inggris merebut gelar Piala Dunia ODI 2017 setelah melalui perjalanan penuh drama, mulai dari cedera kapten hingga kekalahan di laga pembuka.
- Momen kunci terjadi di final saat Anya Shrubsole tampil gemilang dengan 6-46, membalikkan keadaan saat India hampir menang.
- Kemenangan ini menjadi tonggak sejarah bagi kriket wanita Inggris dan menginspirasi generasi baru, termasuk di Indonesia yang mulai mengembangkan olahraga ini.

Empat tahun lalu, Inggris menorehkan sejarah dengan merebut Piala Dunia Kriket Wanita 50-over di Lord's, sebuah kemenangan yang lahir dari kegagalan, cedera, dan tekad yang tak tergoyahkan. Saat Piala Dunia T20 dimulai pekan ini, kisah perjalanan tim asuhan Heather Knight itu kembali relevan—bukan hanya sebagai nostalgia, tetapi sebagai pelajaran tentang bagaimana tekanan membentuk juara.
Perjalanan Inggris dimulai dengan keputusan kontroversial: menepikan kapten legendaris Charlotte Edwards. Setelah itu, kapten baru Heather Knight mengalami patah kaki dua bulan sebelum turnamen. Namun, justru dari titik terendah itu tim menemukan solidaritas. "Kami menjalani sesi kebugaran brutal di Bradgate Park, membawa kayu naik turun bukit. Penderitaan bersama itulah yang merekatkan kami," kenang pembuka Tammy Beaumont.
Kekalahan telak 35 run dari India di pertandingan pertama menjadi alarm. Lauren Winfield-Hill, yang cedera pergelangan tangan, menyebutnya "panggilan bangun yang sangat dibutuhkan". Knight, yang sempat berkonsultasi dengan psikolog olahraga, mengaku stres berat. "Saya khawatir tidak akan fit. Tapi percakapan dengan psikolog membebaskan pikiran saya," ujarnya.
Setelah kekalahan itu, Inggris bangkit dengan kemenangan besar atas Pakistan—Knight dan Nat Sciver-Brunt mencetak abad—dan secara dramatis mengalahkan Australia untuk pertama kalinya sejak 1993. Kemenangan tiga run atas Australia di Bristol menjadi titik balik. "Saat itulah keyakinan sejati lahir," kata Knight. "Kami menjalani pertandingan ketat dan selalu ada yang tampil."
Semifinal melawan Afrika Selatan menjadi ujian mental terberat. Saat Inggris sedang nyaman mengejar 219, pengumuman bahwa final di Lord's telah sold out membuat konsentrasi buyar. Inggris kehilangan 4-34 dalam waktu singkat. "Saya merasa sangat mual, mimpi itu bisa lenyap," ungkap Winfield-Hill. Namun, Jenny Gunn dan Fran Wilson menyelamatkan situasi, dan Anya Shrubsole memukul kemenangan dua run dari tiga bola terakhir.
Final melawan India di hadapan 25.000 penonton menjadi panggung bagi Shrubsole. India berada di posisi nyaman 191-3, butuh 38 run dari 44 bola. Tapi Shrubsole mengambil alih: 5-11 dalam 19 lemparan, total 6-46, menggagalkan India hanya 219. "Saya hanya melempar lurus dan lambat sesekali. Tidak ada yang istimewa," katanya merendah. Beaumont menambahkan, "Dia mendapat 6-46 tanpa sengaja. Itulah Anya."
Bagi Indonesia, kisah ini relevan di tengah upaya mengembangkan kriket wanita. Federasi Kriket Indonesia (Forki) tengah mendorong partisipasi perempuan, dan prestasi Inggris menunjukkan bahwa investasi pada pembinaan mental dan fisik bisa membuahkan hasil. "Kami lebih teruji dalam pertandingan ketat dibanding India," kata Beaumont. Pelajaran itu bisa diterapkan di level mana pun.
Keberhasilan Inggris juga menandai perubahan sosial. Lord's, yang dulu melarang wanita masuk Long Room sebagai anggota, kini menjadi saksi kemenangan bersejarah. "Hari itu bukan untuk 11 pemain di lapangan, tapi untuk setiap wanita yang pernah atau akan bermain untuk Inggris," ucap Beaumont terharu. Pertanyaannya: mampukah Indonesia meniru jejak tersebut dalam satu dekade ke depan?



