Sutradara Nominasi Oscar Shaunak Sen Ubah Diagnosis Kanker Menjadi Film Dokumenter: Sebuah Refleksi Polusi dan Perawatan
Baca dalam 60 detik
- Pembuat film asal India, Shaunak Sen, menggarap dokumenter baru yang berawal dari perjuangannya melawan kanker, menghubungkan penyakitnya dengan polusi udara Delhi.
- Film ini berfokus pada dokter bedahnya sebagai tokoh utama, melanjutkan tema kepedulian yang diangkat dalam karya sebelumnya yang masuk nominasi Oscar, 'All That Breathes'.
- Proyek ini menjadi medium bagi Sen untuk memproses diagnosisnya, sekaligus menyoroti krisis lingkungan yang juga berdampak pada kesehatan manusia di kota-kota besar Asia.

Diagnosis kanker yang mengejutkan telah mendorong sineas India peraih nominasi Oscar, Shaunak Sen, untuk menggarap film dokumenter terbarunya. Bukan sekadar katarsis pribadi, proyek ini menjadi jembatan yang menghubungkan penyakitnya dengan isu lingkungan yang selama ini ia angkat, terutama polusi udara yang mencekik kota Delhi.
Sen, yang namanya melambung lewat film 'All That Breathes'โdokumenter tentang dua kakak beradik yang merawat burung-burung korban polusi udara Delhiโmengaku proyek barunya ini lahir sebagai mekanisme pertahanan diri. "Menjadi semacam strategi untuk mengatasi, atau cara untuk melepaskan atau menggeser teror dari apa yang baru saja Anda dengar," ujarnya kepada AFP dari kediamannya di New Delhi, Jumat (6/9/2026).
Diagnosis itu, menurut Sen, secara gamblang memperlihatkan "risiko yang sama" yang selama ini ia dokumentasikan pada burung-burung yang berjatuhan dari langit Delhi yang tercemar. Kini, risiko itu hinggap di "tubuhnya sendiri". Ia menuturkan, banyak ahli onkologi yang ia temui mengaitkan lonjakan kasus kanker dengan faktor lingkungan, seperti racun, bahan kimia, dan udara yang tercemar.
Kota New Delhi, dengan wilayah metropolitan yang dihuni 30 juta jiwa, memang kerap dinobatkan sebagai salah satu ibu kota paling berpolusi di dunia. Emisi dari pembangkit listrik, lalu lintas padat, serta pembakaran sampah dan sisa panen menjadi biang keladi utama. Sebuah studi di The Lancet Planetary Health pada 2024 bahkan memperkirakan 3,8 juta kematian di India antara 2009 dan 2019 terkait dengan polusi udara.
Menariknya, tokoh sentral dalam film terbaru Sen bukanlah dirinya sendiri, melainkan dokter bedah yang menanganinya. "Saya tidak ingin membuat sesuatu yang solipsistik dan berputar ke dalam," tegas Sen. Pilihan ini menggemakan film sebelumnya, 'All That Breathes', di mana tindakan merawat menjadi inti emosional. "Yang saya kagumi dari seorang ahli bedah adalah kemampuannya untuk benar-benar tenggelam dalam momen saat ini. Itu terasa meditatif dan kontemplatif," paparnya.
Film ini juga menjadi medium bagi Sen untuk merefleksikan hubungannya dengan Delhi, kota tempat ia dibesarkan dan berkarya. "Kota ini adalah wallpaper dari film ini," katanya. "Namun dalam kasus ini, wallpaper-nya melakukan sesuatu pada saya, dan saya bereaksi melalui lensa yang lebih personal dari sebelumnya."
Karya dokumenter Sen selalu menuntut kesabaran dan waktu. Pendekatan etnografisnya membuat ia merekam subjek dalam periode panjang untuk "mendapatkan jawaban secara perlahan". Namun untuk proyek ini, ia mengakui ada ironi. "Waktu memberi hadiah berupa kecelakaan (yang berharga), tetapi akan sangat bodoh dan narsis jika saya berkata, 'Saya memberikan waktu untuk film ini'," ujarnya sambil tersenyum.
Bagi Sen, proses syuting adalah "cara untuk tidak menatap langsung hal yang menakutkan" dan "mengubahnya secara estetis menjadi sebuah proyek, sehingga Anda tidak harus menatap mata kelam dari apa yang sebenarnya terjadi". "Saya kira ini semacam tipu muslihat," kelakarnya.
Di tengah perjalanan pemulihannya, Sen juga bersiap menayangkan film pendek fiksi pertamanya, 'Termite', di Festival Film Internasional Toronto pada September ini. Film yang mengisahkan dua pembasmi rayap di Delhi ini menandai eksplorasi barunya di luar ranah dokumenter.
Kisah Sen menggarisbawahi sebuah realitas yang juga relevan bagi Indonesia. Polusi udara di kota-kota besar seperti Jakarta, yang kerap masuk peringkat kota paling berpolusi di dunia, menimbulkan ancaman kesehatan serupa. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang berkorelasi dengan buruknya kualitas udara. Narasi Sen tentang keterkaitan antara lingkungan dan kesehatan pribadi menjadi pengingat bahwa krisis iklim bukan sekadar isu lingkungan, melainkan juga krisis kesehatan masyarakat yang menuntut perhatian serius dari para pemangku kebijakan.
Pertanyaannya, akankah para pembuat kebijakan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, tergerak untuk menangani akar masalah polusi udara sebelum semakin banyak nyawa yang menjadi taruhan? Dokumenter Sen, yang lahir dari pengalaman pahit, mungkin menjadi salah satu seruan paling personal untuk segera bertindak.



