Erupsi Anak Krakatau Meluas: 15 Kecamatan di Lampung-Banten Terdampak, BNPB Pastikan Nihil Korban Jiwa
Baca dalam 60 detik
- BNPB mencatat tiga kabupaten dan 15 kecamatan di Lampung serta Banten terdampak langsung erupsi Gunung Anak Krakatau, dengan sebaran terluas di Lampung Selatan.
- Meski status waspada diberlakukan, laporan sementara dari BPBD setempat memastikan belum ada korban jiwa, namun pendataan kerusakan fisik masih berjalan.
- Abu vulkanik yang menyebar hingga DKI Jakarta memicu kekhawatiran gangguan kesehatan dan operasional penerbangan, mendorong perlunya antisipasi jangka pendek.

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak akhir pekan memaksa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperluas pemetaan dampak: sedikitnya 15 kecamatan yang tersebar di tiga kabupaten pada dua provinsi, Lampung dan Banten, kini masuk kategori terdampak langsung. Kepala BNPB Suharyanto mengungkapkan hal tersebut dalam konferensi pers daring, Minggu, seraya menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa.
Wilayah terdampak tidak merata. Kabupaten Lampung Selatan menjadi yang paling luas dengan tujuh kecamatan, meliputi Punduh Pedada, Rajabasa, Kalianda, Ketapang, Bakauheni, Sidomulyo, dan Katibung. Di Banten, Kabupaten Pandeglang mencatat empat kecamatan—Carita, Labuan, Panimbang, dan Jiput—sementara Kabupaten Tanggamus di Lampung menyusul dengan empat kecamatan: Pematang Sawa, Cukuh Balak, Semaka, dan Kota Agung. Konsentrasi ini menunjukkan bahwa area pesisir Selat Sunda, yang juga menjadi jalur transportasi dan kawasan wisata, berada pada garis terdepan paparan abu dan material vulkanik.
Yang menjadi perhatian lebih luas, abu vulkanik tidak berhenti di sekitar kawah. Suharyanto menyebut DKI Jakarta, Banten, dan Lampung turut terpapar, sebuah fenomena yang kerap memicu gangguan pernapasan serta melumpuhkan sementara aktivitas penerbangan di beberapa bandara. Meski demikian, dari hasil video conference dengan para kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), semua pihak melaporkan situasi terkendali. “Tidak ada korban jiwa, sementara pendataan kerusakan fisik masih terus dilakukan,” ujarnya.
Bagi warga di pesisir Lampung dan Banten, erupsi ini mengulang memori kelam tsunami Selat Sunda 2018 yang dipicu longsoran bawah laut akibat aktivitas Anak Krakatau. Meski kali ini tidak ada gelombang pasang, ketebalan abu yang dilaporkan BPBD setempat—bahkan disebut cukup tebal hingga Cianjur, Jawa Barat—menuntut kewaspadaan terhadap kesehatan jangka pendek. Masker N95 menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Dari sisi ekonomi, dampak langsung diprediksi terasa pada sektor pariwisata dan logistik. Kawasan seperti Carita dan Labuan yang menjadi pintu masuk wisata Anyer–Panimbang berpotensi mengalami penurunan kunjungan, sementara Pelabuhan Bakauheni—tulang punggung konektivitas Jawa–Sumatera—tetap beroperasi namun dengan risiko gangguan bila abu mengganggu visibilitas. PT KAI sendiri telah memastikan operasional kereta api tetap aman, memberikan sedikit ruang napas bagi mobilitas darat.
“Kami sudah melakukan video conference dengan para Kepala BPBD, semua melaporkan tidak ada korban jiwa. Dampak fisik masih didata,” kata Suharyanto.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah durasi erupsi dan potensi perubahannya. Sejarah mencatat Anak Krakatau dapat beraktivitas dalam siklus panjang, dan setiap fase erupsi membawa risiko berbeda—dari hujan abu hingga bahaya sekunder seperti lahar hujan. BNPB dan PVMBG perlu memperketat pemantauan, sementara pemerintah daerah harus menyiapkan skenario evakuasi bila status naik. Apakah masyarakat pesisir akan tetap waspada setelah berita ini mereda, atau kembali terlena seperti sebelum 2018?



