AS dan Iran Saling Tembak di Perairan Teluk: Tiga Kapal Tanker Jadi Sasaran, Harga Minyak Dunia Bergejolak
Baca dalam 60 detik
- Pasukan AS menenggelamkan tiga kapal minyak Iran di dekat Pulau Kharg sebagai balasan atas serangan rudal IRGC ke dua kapal angkatan laut AS.
- Insiden ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak global, tercermin dari lonjakan harga Brent ke level tertinggi sejak Juli.
- Konflik yang memanas dapat berdampak pada harga energi domestik Indonesia dan stabilitas kawasan, mengingat ketergantungan pada minyak impor.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah pasukan kedua negara saling menembaki kapal di perairan Teluk, Sabtu (5/9). Tiga kapal tanker minyak Iran dihantam oleh militer AS, sementara Teheran mengklaim telah menargetkan tiga kapal lain yang dianggap melintasi jalur tidak resmi di Selat Hormuz. Insiden ini tidak hanya memperdalam konflik yang telah berlangsung sejak Februari, tetapi juga mengguncang pasar energi global yang tengah rapuh.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa serangan terhadap kapal-kapal Iran, termasuk satu di dekat Pulau Kharg—pusat ekspor minyak utama Iran—merupakan respons langsung atas peluncuran rudal balistik oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang menyasar dua kapal perang AS. Laksamana Brad Cooper, kepala CENTCOM, menegaskan bahwa tindakan ini adalah pesan tegas: setiap serangan terhadap kapal AS akan dibalas dengan kerugian ekonomi yang lebih besar. “Jika Anda menembaki dua kapal kami, kami akan menenggelamkan tiga kapal Anda,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Di sisi lain, IRGC tidak tinggal diam. Mereka mengancam akan meningkatkan serangan terhadap kapal militer AS di kawasan tersebut dan mengklaim telah menghantam tiga kapal tanker serta tiga kapal lain yang terkait dengan AS. Dalam pernyataan yang disiarkan televisi negara, IRGC Navy memperingatkan agar tidak ada pihak yang mencoba melintasi jalur air yang tidak sah, dengan nada mengancam: “Jangan tertipu oleh militer AS yang teroris, dan jangan lakukan gerakan mencurigakan. Jika tidak, Anda akan menjadi sasaran.”
Insiden ini merupakan eskalasi terbaru dari konflik yang dimulai ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada Februari, yang telah mengganggu pasokan energi global dan memicu penolakan luas di kalangan masyarakat AS menjelang pemilu kongres November. Pemerintahan Donald Trump memang berusaha beralih ke tekanan ekonomi melalui sanksi yang diperluas, namun sang presiden sendiri tidak menutup kemungkinan aksi militer. Pada 31 Agustus, Trump bahkan mengunggah video buatan AI yang menampilkan Pulau Kharg “hancur berkeping-keping” di media sosial, sebuah provokasi yang langsung direspons dengan ancaman balasan keras dari otoritas Iran.
Bagi Indonesia, konflik ini bukan sekadar berita mancanegara. Sebagai negara pengimpor minyak mentah, setiap gejolak di Timur Tengah berpotensi mendongkrak harga BBM di dalam negeri dan memperberat beban APBN. Sebelum perang, Iran adalah produsen minyak terbesar ketiga di OPEC dan mengekspor 90 persen minyak mentahnya melalui Pulau Kharg. Blokade laut yang diberlakukan AS sejak pertengahan April telah menghentikan aliran ekspor tersebut, dan serangan langsung ke Kharg akan semakin menekan industri minyak Iran serta ekonomi nasionalnya yang sudah terpuruk.
Pasar minyak global merespons cepat. Brent crude futures ditutup pada level tertinggi sejak 24 Juli, mencapai US$96,28 per barel pada Jumat lalu, didorong oleh kekhawatiran gangguan pasokan. Jika konflik berlanjut, analis memperkirakan harga bisa menembus US$100 per barel, yang akan berdampak langsung pada inflasi di negara-negara importir seperti Indonesia. Pemerintah Indonesia mungkin perlu mengkaji ulang asumsi makro APBN dan menyiapkan langkah antisipasi, seperti memperkuat cadangan strategis atau mempercepat transisi energi.
Pertanyaan besarnya kini: akankah eskalasi ini berhenti, atau justru memicu baku tembak yang lebih luas? Trump sebelumnya sempat menyatakan ingin menguasai Pulau Kharg, namun kemudian mengurungkan niatnya sebelum penandatanganan kesepakatan sementara dengan Iran pada 17 Juni. Kini, dengan video provokatif dan serangan langsung, apakah gencatan senjata yang rapuh itu akan bertahan? Atau justru menjadi awal dari konflik terbuka yang semakin sulit dikendalikan? Dunia, termasuk Indonesia, hanya bisa berharap para pemimpin di kedua kubu memilih jalan diplomasi daripada mempertaruhkan stabilitas ekonomi global.



