Gen Z dan Investasi Aman: SBN, Emas, atau Deposito, Mana yang Tepat?
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah menawarkan tiga instrumen investasi berisiko rendah yang dijamin negara untuk menarik minat generasi muda berpartisipasi dalam pembangunan.
- SBN tidak hanya memberikan imbal hasil tetap, tetapi juga menjadi sumber pembiayaan proyek infrastruktur strategis seperti pelabuhan di Papua.
- Emas tetap menjadi primadona lindung nilai dengan kenaikan historis 60% pada 2025, namun butuh kesabaran karena bukan instrumen untuk keuntungan cepat.

Di tengah gencarnya literasi keuangan untuk generasi muda, pemerintah kembali menegaskan pentingnya berinvestasi pada instrumen yang tidak hanya aman, tetapi juga berdampak langsung pada pembangunan negeri. Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (SPSK) Kementerian Keuangan, Herman Saheruddin, menyebut tiga pilihan utama: Surat Berharga Negara (SBN), emas, dan deposito. Ketiganya dinilai memiliki tingkat keamanan tinggi karena dijamin oleh negara atau lembaga penjamin simpanan.
Pernyataan ini disampaikan dalam acara Lampung Financial Festival pada Minggu (6/9/2026), sebuah forum yang menyasar peningkatan inklusi keuangan di daerah. Herman menjelaskan bahwa SBN bukan sekadar instrumen investasi, melainkan juga alat bagi negara untuk membiayai belanja yang melebihi pendapatan. "Misalnya ada pelabuhan yang dibangun di Papua, nah itu juga salah satunya adalah dari kontribusi penerbitan SBN," ujarnya, mengilustrasikan bagaimana dana masyarakat berperan dalam proyek strategis nasional.
Keamanan SBN diperkuat oleh status investment grade Indonesia yang diakui lembaga pemeringkat internasional. Standard & Poor's, misalnya, mempertahankan peringkat BBB dengan outlook stabil. Artinya, negara dinilai mampu memenuhi kewajiban utangnya, sehingga risiko gagal bayar relatif rendah. Bagi investor ritel, terutama generasi Z yang baru memulai investasi, SBN menawarkan kepastian imbal hasil yang lebih menarik dibandingkan deposito, dengan kontribusi nyata pada pembangunan.
Sementara itu, emas tetap menjadi pilihan favorit sebagai aset lindung nilai. Chief Marketing Officer Raja Emas Indonesia, M. Rahmat, menekankan bahwa emas memiliki dua fungsi utama: sebagai safe haven asset dan alat investasi. Ia mengingatkan bahwa investasi emas berbeda dengan trading; keuntungan optimal hanya bisa diraih jika disimpan minimal tiga tahun. Data historis menunjukkan, pada 2025 lalu harga emas melonjak hingga 60%, menjadikannya instrumen yang menggiurkan namun menuntut kesabaran.
Bagi investor muda di Indonesia, pilihan antara SBN, emas, dan deposito sejatinya bergantung pada profil risiko dan tujuan keuangan. SBN cocok untuk yang mendambakan pendapatan tetap dan ingin berpartisipasi dalam pembangunan, meski likuiditasnya terbatas. Emas menawarkan perlindungan nilai tetapi fluktuatif dalam jangka pendek. Deposito, meski imbal hasilnya lebih rendah, memberikan kemudahan akses dan keamanan melalui penjaminan LPS.
Menariknya, ketiga instrumen ini sama-sama memiliki underpinning kelembagaan yang kuat, baik dari negara maupun lembaga keuangan resmi. Hal ini penting dicermati di tengah maraknya tawaran investasi bodong yang mengiming-imingi keuntungan besar dalam waktu singkat. Edukasi seperti yang dilakukan dalam festival keuangan ini menjadi krusial untuk membentengi generasi muda dari jerat investasi ilegal.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah generasi Z mau berinvestasi, melainkan seberapa cerdas mereka memilah instrumen yang sesuai. Dengan literasi yang semakin baik, bukan tidak mungkin mereka menjadi tulang punggung pembangunan melalui instrumen negara seperti SBN. Namun, apakah minat ini akan bertahan jika kondisi ekonomi global bergejolak? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi langkah awal yang tepat akan menentukan ketahanan finansial jangka panjang.



