Dan Evans Pensiun Usai Wimbledon: Akhir Petualangan Petenis Kontroversial Inggris
Baca dalam 60 detik
- Mantan petenis nomor satu Inggris, Dan Evans, mengumumkan pensiun setelah Wimbledon 2025, mengakhiri karier yang diwarnai puncak ranking 21 dunia dan skandal doping.
- Evans, yang pernah membawa Inggris juara Piala Davis 2015, hanya bermain lima pertandingan tahun ini dan terpuruk ke peringkat 217.
- Setelah pensiun, ia akan fokus melatih Henry Searle, juara junior Wimbledon 2023, membuka babak baru di luar lapangan.

Dan Evans, mantan petenis nomor satu Inggris, memutuskan gantung raket setelah Wimbledon tahun ini. Pengumuman itu disampaikan melalui akun Instagram-nya, menandai akhir dari perjalanan panjang yang penuh liku—dari puncak peringkat 21 dunia hingga skandal doping yang sempat menghentikan kariernya.
Petenis berusia 36 tahun itu hanya memenangi dua gelar ATP Tour sepanjang kariernya, namun namanya tercatat emas dalam sejarah tenis Inggris. Ia menjadi bagian dari tim Piala Davis 2015 yang mengakhiri puasa gelar Inggris selama 79 tahun. Evans juga pernah menjadi andalan di nomor satu Inggris selama dua tahun, sebuah pencapaian yang langka di tengah dominasi Andy Murray.
Namun, musim ini menjadi ujian berat. Evans hanya tampil dalam lima pertandingan profesional dan peringkatnya merosot ke 217 dunia. Cedera dan performa menurun membuatnya sulit bersaing. Wimbledon yang akan berlangsung mulai 29 Juni menjadi panggung terakhirnya, meski ia harus melewati kualifikasi atau mendapat wildcard untuk bisa tampil di babak utama.
Keputusan Evans pensiun tak lepas dari perjalanan karier yang kontroversial. Pada 2017, ia dijatuhi sanksi setahun karena positif kokain. Ia menyebut keputusan itu sebagai "hal terburuk yang pernah saya lakukan". Namun, sejak kembali pada April 2018, Evans membuktikan diri dengan bertahan di 50 besar dunia selama hampir lima tahun. Tato di lengan kirinya yang mengutip Oscar Wilde—"Every saint has a past, every sinner has a future"—seolah menjadi moto hidupnya.
Evans juga dikenal karena pengorbanannya. Pada 2024, ia rela mengorbankan 500 poin ranking yang diraih di Washington Open demi berpasangan dengan Andy Murray di Olimpiade Paris. Itu menjadi pertandingan terakhir Murray sebelum pensiun. "Mewakili Inggris Raya di Piala Davis dan Olimpiade adalah kehormatan terbesar dalam karier saya," tulis Evans.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kisah Evans mengingatkan pada perjuangan petenis Tanah Air yang kerap menghadapi keterbatasan fasilitas dan pendanaan. Meski levelnya berbeda, semangat pantang menyerah Evans bisa menjadi inspirasi. Tenis Indonesia masih berjuang melahirkan petenis top dunia, dan karier Evans menunjukkan bahwa jalan menuju puncak tidak selalu mulus.
Setelah pensiun, Evans akan beralih profesi menjadi pelatih. Ia dikabarkan akan membimbing Henry Searle, petenis muda 20 tahun yang menjadi juara junior Wimbledon 2023. Langkah ini menunjukkan bahwa Evans tidak benar-benar meninggalkan tenis, melainkan memilih peran baru di balik layar.
Wildcard untuk Wimbledon masih menjadi tanda tanya. Komite wildcard All England Club akan bertemu pada Selasa mendatang untuk memutuskan. Evans telah menyampaikan langsung permohonannya, mengingat jasanya bagi tenis Inggris. Namun, dengan peringkat yang terus merosot, peluangnya tipis. Akankah Wimbledon memberikan kesempatan terakhir bagi petenis yang pernah menjadi nomor satu Inggris? Jawabannya akan diketahui dalam waktu dekat.



