Pelatihan Digital Marketing untuk UMKM Riau: Fondasi Bisnis Lebih Penting dari Sekadar Pemasaran
Baca dalam 60 detik
- Anggota Komisi VII DPR mendorong UMKM di Riau untuk memperkuat pola pikir bisnis sebagai fondasi sebelum menguasai pemasaran digital.
- Pelatihan yang digelar di Pekanbaru melibatkan 17 organisasi masyarakat di bawah BMIWI Riau sebagai upaya meningkatkan daya saing UMKM.
- Program ini diharapkan menjadi model pembinaan berkelanjutan yang dapat direplikasi di daerah lain untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis komunitas.

Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Riau tidak cukup hanya mengandalkan keterampilan pemasaran digital tanpa membangun fondasi pola pikir bisnis yang kuat. Pernyataan itu disampaikan Anggota Komisi VII DPR RI Hendry Munief dalam pelatihan digital marketing yang digelar di Pekanbaru, Sabtu (25/7).
Kegiatan yang diinisiasi oleh Badan Musyawarah Islam Wanita Indonesia (BMIWI) Riau itu diikuti oleh pengurus dan anggota dari 17 organisasi kemasyarakatan. Pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas pelaku UMKM agar mampu bersaing di era digital, namun Hendry menekankan bahwa aspek mentalitas bisnis harus menjadi prioritas pertama.
Menurut Hendry, banyak pelaku UMKM yang terjebak pada orientasi keuntungan jangka pendek dan membangun usaha secara instan. Ia mengibaratkan praktik tersebut seperti membangun gelembung bisnis yang bisa meletus kapan saja. "Pondasi UMKM itu ada pada mindset bisnis. Sehebat apa pun kita, kalau pondasinya tidak kuat, maka usaha itu tidak akan bisa berdiri dengan kokoh," ujar politikus itu dalam keterangannya, Minggu (26/7).
Setelah pola pikir bisnis tertanam, Hendry mendorong pelaku UMKM untuk meningkatkan keterampilan digital, memperluas jejaring, dan memanfaatkan teknologi sebagai alat berkembang. Ia menegaskan bahwa kombinasi antara fundamental bisnis yang kuat dan adaptasi teknologi menjadi kunci agar UMKM bisa naik kelas. "Yang kedua baru skill. Kita harus membangun networking, meningkatkan keahlian digital bisnis, dan memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk berkembang," tambahnya.
Pelatihan ini diharapkan tidak hanya menjadi acara seremonial, melainkan bagian dari pendampingan berkelanjutan. Hendry mengungkapkan bahwa sejumlah UMKM binaan yang telah mengikuti program serupa menunjukkan perkembangan positif. Menurutnya, penguatan kapasitas seperti ini penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis masyarakat di Riau dan bisa menjadi contoh bagi daerah lain.
Ke depan, tantangan terbesar bagi UMKM Indonesia bukan sekadar akses teknologi, melainkan konsistensi dalam membangun mentalitas wirausaha. Akankah program pelatihan seperti ini mampu mengubah paradigma pelaku usaha dari pola instan ke arah pertumbuhan yang berkelanjutan?



