Wimbledon Naikkan Hadiah 20%: Juara Raih Rp60 Miliar, Pemain Tetap Protes
Baca dalam 60 detik
- Total hadiah Wimbledon tahun ini mencapai £64,2 juta atau naik 20%, dengan juara tunggal menerima £3,6 juta.
- Pemain menuntut kaitan hadiah dengan pendapatan turnamen sebesar 16%, namun panitia menolak karena alasan keberlanjutan bisnis.
- Kenaikan ini terjadi di tengah ketegangan antara petenis dan penyelenggara Grand Slam, termasuk aksi boikot wawancara di Prancis.

Wimbledon tahun ini memecahkan rekor dengan total hadiah £64,2 juta, naik 20% dari edisi sebelumnya. Juara tunggal putra dan putri masing-masing akan membawa pulang £3,6 juta atau setara Rp60 miliar, sementara pemain yang kalah di babak pertama tetap mendapat jaminan £80.000. Namun, langkah ini belum sepenuhnya meredam gelombang protes dari kalangan petenis yang menuntut pembagian pendapatan lebih adil.
Kenaikan sebesar £10,7 juta ini terjadi di saat para pemain, yang tergabung dalam kelompok advokasi, mendesak seluruh turnamen Grand Slam mengalokasikan 16% pendapatan mereka untuk hadiah. Wimbledon sendiri menjadi sasaran utama karena dianggap paling lamban merespons tuntutan tersebut. Ketua All England Club (AELTC), Deborah Jevans, membela keputusan pihaknya dengan menyebut bahwa persentase pendapatan bukanlah metrik yang tepat karena tidak memperhitungkan biaya operasional dan investasi infrastruktur.
“Kami tidak bisa menjalankan bisnis hanya dengan melihat pendapatan. Kami memiliki pengeluaran besar untuk perawatan lapangan rumput dan fasilitas,” ujar Jevans kepada BBC Sport. Ia menambahkan bahwa AELTC telah berdiri hampir 150 tahun dan harus menjaga keberlanjutan. Sebagai bagian dari komitmen, tahun lalu AELTC menyalurkan £48,1 juta ke Lawn Tennis Association (LTA) sesuai perjanjian pembagian 90% surplus.
Ketegangan antara pemain dan penyelenggara semakin memanas setelah French Open 2025 hanya menaikkan hadiah 9,5%. Sejumlah petenis membatasi wawancara media menjadi 15 menit sebagai bentuk protes. Direktur turnamen French Open, Amelie Mauresmo, mengakui perlu ada perubahan mentalitas dari kedua belah pihak. “Semua harus saling melangkah,” katanya.
Di sisi lain, US Open justru menjadi tolok ukur. Tahun lalu, turnamen ini menawarkan hadiah $90 juta (£67,2 juta) dan tahun ini diperkirakan menembus $100 juta. Pemain menggunakan momentum ini untuk menekan Wimbledon dan Grand Slam lainnya agar lebih murah hati. Mereka juga menyoroti kesuksesan acara mixed doubles yang menjadi daya tarik komersial Fan Week.
Bagi Indonesia, kenaikan hadiah Wimbledon menjadi sinyal positif bagi perkembangan tenis nasional. Meski belum ada petenis Indonesia yang berlaga di level Grand Slam, peningkatan nilai ekonomi turnamen dapat mendorong investasi sponsor dan federasi. Ketua Umum Pelti, seperti dikutip dari pernyataan sebelumnya, menilai bahwa tenis Indonesia perlu memanfaatkan momentum ini untuk memperbaiki pembinaan usia dini dan fasilitas latihan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Wimbledon akan bertahan pada posisinya atau akhirnya menyerah pada tekanan pemain. Dengan US Open yang diprediksi melampaui target 16%, tekanan terhadap AELTC dan French Open semakin besar. Jika tidak ada perubahan, bukan tidak mungkin aksi boikot akan meluas ke turnamen lain.



