Hasil Tangkapan Merosot, Nelayan Rawa Paminggir Terjepit Perubahan Iklim
Baca dalam 60 detik
- Produksi ikan rawa di Paminggir, Kalimantan Selatan, menyusut drastis dalam lima tahun terakhir akibat anomali cuaca dan praktik perikanan ilegal.
- Penghasilan nelayan anjlok hingga 70 persen, memaksa mereka beralih ke keramba toman yang juga terhambat oleh kelangkaan pakan.
- Pemerintah daerah menggalakkan restocking dan suaka perikanan, namun hasil optimal diperkirakan baru terasa dalam satu dekade.

Rawa Paminggir, hamparan lahan basah seluas 156 kilometer persegi di Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, yang selama puluhan tahun menjadi lumbung ikan bagi ribuan nelayan, kini perlahan kehilangan pamornya. Penghasilan warga yang sehari-hari mengandalkan jaring dan perahu terus merosot dalam lima tahun terakhir, bahkan hasil tangkapan tak lagi cukup untuk menutup biaya bahan bakar minyak.
Lamsah, seorang nelayan berusia 50 tahun, hanya mampu mengumpulkan empat kilogram ikan setelah berjam-jam menarik rengge sejak subuh. Ia mengingat masa ketika dirinya bisa membawa pulang Rp100.000 hingga Rp150.000 setiap hari dari menjual ikan rawa. Kini, mencari setengah dari jumlah itu terasa amat berat. “Kadang pendapatan cuma Rp25.000, itupun harus disyukuri,” katanya. Kondisi serupa dialami Rusmiati dan Jamrani, yang penghasilannya anjlok dari Rp200.000 menjadi Rp50.000 per hari. Beberapa jenis ikan seperti lais, pipih, dan sanggang sudah jarang ditemukan.
Penyebab kemerosotan ini tidak tunggal. Para nelayan menduga tinggi muka air rawa yang berubah drastis akibat pola hujan tak menentu menjadi faktor utama. Air yang terlalu dalam membuat ikan tersebar lebih luas dan lokasi tradisional memancing menjadi kosong. Fenomena banyu bangai—perubahan suhu air secara mendadak—kerap memicu kematian massal ikan. Selain itu, gulma air yang disebut susupan gunung kian menutupi permukaan rawa, menyulitkan pemasangan alat tangkap. Praktik penangkapan ilegal seperti penggunaan setrum listrik juga memperparah kerusakan ekosistem.
Di tengah tekanan itu, warga mulai beradaptasi. Hampir setiap keluarga nelayan di Desa Bararawa dan Sapala kini memelihara ikan toman dalam keramba apung sebagai tabungan. Namun, pakan utama—ikan runcah hasil tangkapan—semakin sulit diperoleh. Tak jarang toman harus berpuasa, memperlambat pertumbuhan dan memperpanjang waktu panen. Sebagian nelayan terpaksa membeli pakan ikan kecil seharga Rp220.000 per boks dari pedagang yang lewat. Mursidah, seorang nelayan keramba, mengaku harus mengeluarkan biaya ekstra untuk pakan saat tangkapan minim. “Kalau sedikit dapat ikan, ya beli pakan,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara berupaya melalui program restocking penebaran benih ikan dan suaka perikanan di Desa Tampakang. Suaka ini akan menjadi zona inti pembibitan yang dilarang untuk ditangkap. Namun, Maysarah, Kepala Bidang Perikanan Budidaya Diskan HSU, mengingatkan bahwa dampaknya tidak instan. “Mungkin baru terlihat dalam sepuluh tahun,” katanya. Sementara itu, melalui skema perhutanan sosial, kelompok masyarakat seperti KUPS Rawa Sejahtera dan Rawa Maju mengembangkan budidaya toman dengan dukungan Walhi Kalsel, AP2SI, dan Yayasan Tifa. Mereka juga merencanakan gudang penyimpanan ikan agar tidak menjual saat harga jatuh.
Anggota DPRD HSU Budi Lesmana mendesak pemerintah daerah mencermati kondisi aktual sebelum merancang program. Ia menekankan pentingnya pendekatan yang seimbang antara penegakan hukum dan penyediaan alternatif ekonomi, seperti budidaya beje—kolam tradisional yang memanen ikan saat air surut—atau wisata memancing berbasis BUMDes. Direktur Eksekutif Walhi Kalsel, Raden Rafiq, menambahkan, perlindungan bentang rawa gambut Paminggir harus menjadi prioritas. Fungsi hidrologis gambut yang menyimpan air dan karbon sangat vital bagi ketahanan pangan dan iklim. Tanpa ekosistem yang sehat, kata dia, kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada rawa akan sulit dipertahankan. Pertanyaannya, mampukah pemerintah dan warga bahu-membahu memulihkan denyut kehidupan di rawa ini sebelum kehilangan lebih banyak?



