IHSG Tertekan Jelang FOMC The Fed, Investor Wait and See
Baca dalam 60 detik
- IHSG dibuka turun 0,17% ke 6.185,8 di tengah antisipasi keputusan suku bunga The Fed pekan ini.
- Penurunan harga minyak mentah global memberi sentimen positif bagi inflasi dan neraca perdagangan Indonesia.
- Transisi kepemimpinan BI dari Perry Warjiyo ke Destry Damayanti dinilai pasar tidak akan mengubah arah kebijakan moneter.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan pekan ini di zona merah, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar yang menunggu hasil pertemuan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, pada akhir Juli 2026.
Pada Senin pagi, IHSG dibuka melemah 10,63 poin atau 0,17 persen ke level 6.185,80. Indeks LQ45 yang mewakili saham-saham unggulan juga turun 2,07 poin atau 0,34 persen ke posisi 612,72. Pengamat pasar modal Hendra Wardana menilai pelemahan ini masih dalam batas wajar selama IHSG bertahan di atas area support 6.060, dengan resistance di level 6.300.
Sentimen global menjadi penekan utama. Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28-29 Juli akan menentukan arah suku bunga acuan AS, yang berpotensi mempengaruhi arus modal asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun, ada kabar positif: harga minyak mentah Brent yang sempat mendekati 100 dolar AS per barel kini terkoreksi sekitar 4,5 persen ke kisaran 87 dolar AS. Penurunan ini meredakan kekhawatiran inflasi global dan mengurangi tekanan biaya energi, yang bagi Indonesia โ sebagai negara pengimpor minyak โ berdampak baik pada inflasi domestik, neraca perdagangan, dan stabilitas rupiah.
Selain The Fed, pasar juga mencermati kebijakan Bank of Japan dan Bank of England, serta data inflasi PCE AS, pertumbuhan ekonomi AS kuartal II-2026, dan data durable goods orders. Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada mundurnya Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan penunjukan Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas. Hendra menilai langkah ini memberikan sinyal kesinambungan kebijakan moneter, mengingat Destry merupakan bagian dari perumus kebijakan BI. Stabilitas rupiah yang masih terjaga di kisaran Rp17.953 per dolar AS (melemah tipis 0,23 persen) mengindikasikan pasar tidak bereaksi berlebihan.
Hendra menjelaskan bahwa posisi Gubernur BI sangat vital karena setiap keputusan terkait suku bunga, nilai tukar, dan inflasi mempengaruhi pasar obligasi dan saham. Dengan transisi yang mulus, risiko ketidakpastian kebijakan domestik relatif rendah. Sementara itu, bursa regional pagi ini mencatat mixed performance: Nikkei menguat 0,10 persen, Shanghai menguat 0,18 persen, Hang Seng menguat 0,23 persen, sedangkan Kospi melemah 1,18 persen dan Strait Times turun 0,27 persen.
Ke depan, investor masih akan dihadapkan pada dinamika antara sentimen eksternal dan domestik. Hasil FOMC pekan ini menjadi katalis utama yang bisa memicu volatilitas IHSG. Apakah indeks mampu bertahan di atas support 6.060 atau justru melanjutkan koreksi ke level yang lebih dalam? Yang jelas, sikap wait and see masih akan mendominasi hingga keputusan suku bunga AS diumumkan.



