Korpasgat Tuntaskan Latihan Antiteror Bandara, Kolaborasi dengan Pelatih Inggris
Baca dalam 60 detik
- Korpasgat TNI AU menyelesaikan latihan antiteror bandara selama sebulan penuh, menggandeng instruktur dari Inggris.
- Pelatihan mencakup teori dan simulasi penanganan krisis penerbangan, tanpa merinci skenario spesifik.
- Program ini diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan personel dalam menghadapi ancaman teror dan pembajakan.

Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) TNI Angkatan Udara resmi menuntaskan latihan antiteror di lingkungan bandara yang berlangsung hampir sebulan penuh, kerja sama dengan perusahaan pelatihan pertahanan asal Inggris, Sovereign Tactical Training. Langkah ini menjadi sinyal keseriusan Indonesia dalam memperkuat keamanan penerbangan di tengah meningkatnya ancaman global.
Ancaman terorisme dan pembajakan pesawat masih menjadi momok bagi industri penerbangan, tidak terkecuali di Indonesia. Dengan jumlah bandara yang terus bertambah dan lalu lintas penumpang yang tinggi, kesiapsiagaan pasukan khusus seperti Korpasgat menjadi vital untuk menjamin keamanan. Pelatihan yang digelar di Wing Pendidikan 800 Pasgat, Bandung, Jawa Barat, sejak 29 Juni hingga 24 Juli 2026 ini bertujuan membekali personel dengan keterampilan teknis dan taktis terkini.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama I Nyoman Suadnyana, menjelaskan bahwa Sovereign Tactical Training dipilih karena reputasinya dalam memberikan pelatihan antiteror dan pengamanan bandara. Kerja sama ini juga menunjukkan adanya transfer pengetahuan dan metode dari salah satu negara dengan pengalaman panjang dalam kontraterorisme. Seluruh rangkaian latihan berlangsung sesuai standar keamanan yang ketat, tanpa kendala berarti.
Materi yang diberikan mencakup langkah pencegahan, penanganan, hingga respons terhadap situasi krisis di lingkungan penerbangan. Selain teori, peserta juga menjalani berbagai simulasi untuk menguji kesiapsiagaan menghadapi ancaman nyata. Meski TNI AU tidak merinci skenario simulasi, praktik semacam ini penting untuk membangun refleks dan koordinasi tim di lapangan. Harapannya, personel Korpasgat mampu menjalankan misi antiteror secara profesional dan adaptif.
Bagi publik Indonesia, latihan ini memberikan rasa aman bahwa aparat keamanan terus memperbarui kemampuan menghadapi ancaman. Apalagi, bandara menjadi titik rawan yang kerap diincar kelompok teroris. Dengan pengalaman dari instruktur asing, diharapkan standar operasional Korpasgat semakin mendekati praktik terbaik global. Ke depan, tidak menutup kemungkinan kerja serupa diperluas ke satuan lain atau melibatkan bandara-bandara utama di Indonesia.
Penuntasan latihan ini menjadi salah satu rangkaian dari program peningkatan kapasitas TNI AU yang berkelanjutan. Namun, masih ada pekerjaan rumah: bagaimana memastikan keterampilan ini terpelihara dan diintegrasikan dengan sistem keamanan bandara yang ada? Kolaborasi dengan pihak sipil, seperti otoritas bandara dan maskapai, juga perlu diperkuat agar respons terhadap krisis berjalan mulus. Inilah tantangan yang harus dijawab oleh TNI AU ke depannya.


