Bank of Japan Tahan Suku Bunga di 1%, Sinyal Kenaikan Makin Kuat
Baca dalam 60 detik
- Bank of Japan diprediksi mempertahankan suku bunga acuan 1% dalam pertemuan pekan ini, tetapi akan memperkuat sinyal hawkish untuk merespons tekanan inflasi dari perang Timur Tengah dan pelemahan yen.
- Analis memperkirakan risiko inflasi masih condong ke atas, dengan kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya terjadi pada Desember 2026 atau lebih cepat jika inflasi membengkak di luar kendali.
- Kebijakan moneter Jepang berpotensi mempengaruhi arus modal asing ke Indonesia dan daya saing ekspor produk Jepang di pasar regional.

Bank of Japan (BOJ) dipastikan akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 1 persen dalam pertemuan dua hari yang berakhir Jumat mendatang, namun sinyal kenaikan lebih lanjut akan disampaikan melalui pernyataan hawkish. Langkah ini diambil di tengah tekanan inflasi yang terus menguat akibat konflik bersenjata di Timur Tengah, pelemahan yen yang berkepanjangan, serta lonjakan permintaan global untuk kecerdasan buatan (AI).
Meski demikian, BOJ diperkirakan tetap ambigu mengenai jadwal dan besaran kenaikan suku bunga ke depan. Bank sentral masih menunggu data mengenai sejauh mana kenaikan harga produsen akibat guncangan energi akan merembet ke perekonomian secara lebih luas. Gubernur Kazuo Ueda berada dalam posisi sulit: ia harus meredam spekulasi pelaku pasar yang menjual yen melalui komunikasi yang hawkish, tetapi tanpa membuat pemerintah yang dipimpin Perdana Menteri Sanae Takaichi merasa terusik. Pemerintah Takaichi dikenal kritis terhadap pengetatan moneter dan lebih fokus pada kebijakan fiskal ekspansif untuk memacu pertumbuhan.
Analis dari Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities menilai bahwa risiko terhadap prospek inflasi masih condong ke atas. Mereka memperkirakan kenaikan suku bunga berikutnya akan terjadi pada Desember 2026, tetapi bisa dipercepat menjadi September atau Oktober jika BOJ semakin khawatir terhadap overshoot inflasi atau jika pelemahan yen terus berlanjut dan mendorong pemerintah untuk menganggap kenaikan suku bunga sebagai langkah yang tak terhindarkan.
Dari sisi domestik Indonesia, kebijakan BOJ patut dicermati. Jepang merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia, dan pelemahan yen membuat produk ekspor Jepang menjadi lebih murah di pasar global. Hal ini berpotensi menekan neraca perdagangan Indonesia, terutama di sektor manufaktur. Di sisi lain, arus modal asing dari Jepang ke Indonesia juga bisa terpengaruh jika BOJ mulai menaikkan suku bunga secara agresif, karena investor akan membandingkan imbal hasil antara kedua negara.
Ke depan, data inflasi konsumen Jepang dalam beberapa bulan mendatang akan menjadi penentu utama langkah BOJ. Jika inflasi terus melampaui target 2% dan tekanan harga menyebar ke berbagai sektor, bukan tidak mungkin kenaikan suku bunga akan terjadi lebih awal dari perkiraan. Pasar kini menunggu pidato Gubernur Ueda dan laporan prospek triwulanan BOJ untuk petunjuk lebih lanjut.


