UNESCO Resmi Akui Situs Asia: dari Candi Thailand hingga Porselen China
Baca dalam 60 detik
- Sidang Warisan Dunia UNESCO di Busan menambahkan enam situs Asia, termasuk candi Buddha Thailand dan kawasan industri porselen China.
- Pengakuan ini berpotensi menggandakan kunjungan wisatawan, menguji kesiapan infrastruktur dan konservasi masing-masing negara.
- Indonesia, dengan sembilan situs warisan dunia, dapat memetik pelajaran dari strategi mitigasi dampak pariwisata negara tetangga.

Sebanyak enam situs baru dari kawasan Asia resmi ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO dalam sidang Komite Warisan Dunia yang berlangsung di Busan, Korea Selatan, Sabtu lalu. Keputusan ini menandai babak baru dalam persaingan dan kerja sama pelestarian budaya di Asia, sekaligus menjadi ujian bagi negara-negara anggota dalam mengelola lonjakan wisatawan yang diprediksi terjadi.
Sidang yang masih berlanjut hingga pekan depan itu meninjau puluhan nominasi lain, termasuk pantai pendaratan D-Day di Prancis, Gunung Olympus di Yunani, dan ibu kota kuno Jepang Asuka-Fujiwara. Namun, pengakuan terhadap situs-situs Asia mendapat perhatian khusus karena keragaman nilai sejarah dan ekologisnya. Thailand, misalnya, berhasil mencatatkan Wat Phra Mahathat Woramahawihan, sebuah candi Buddha abad ke-13 di Provinsi Nakhon Si Thammarat, sebagai situs warisan dunia kesembilan negara tersebut.
UNESCO mendeskripsikan Wat Phra Mahathat sebagai contoh arsitektur Theravada yang masih difungsikan sebagai tempat ibadah aktif, dengan stupa setinggi 78 meter yang menjadi pusat ritual keagamaan. Proses nominasi candi ini telah dimulai sejak 2012 dan melalui persiapan panjang selama lebih dari satu dekade. Kanop Ketchart, Wali Kota Nakhon Si Thammarat, menyatakan kesiapan infrastruktur dan zona penyangga untuk mengantisipasi peningkatan kunjungan. โKami telah menyiapkan rencana evakuasi dan zonasi sesuai standar UNESCO. Masyarakat pun sudah terbiasa dengan proses ini selama sepuluh tahun terakhir,โ ujarnya dalam wawancara bulan ini.
Selain candi Thailand, Sarnath di Varanasi, Indiaโtempat Buddha menyampaikan khotbah pertamanyaโjuga diakui. Situs ini dinilai memiliki signifikansi arsitektural dan arkeologis yang dalam meskipun sempat mengalami masa surut. Sementara itu, Korea Selatan memperluas pengakuan terhadap kawasan getbol (dataran lumpur pasang) dengan menambahkan empat lahan basah pesisir di Seosan, Goheung, Muan, dan Yeosu. Ekosistem ini sebelumnya telah diakui pada 2021 sebagai habitat penting bagi burung migran. China turut mencatatkan situs industri porselen kerajinan tangan di Jingdezhen, yang merekam evolusi produksi porselen dari abad ke-10 hingga ke-19. Komoro, negara kepulauan di Samudra Hindia, untuk pertama kalinya masuk daftar warisan dunia melalui enam kota bersejarah (medinas) yang mencerminkan perpaduan budaya Afrika, Arab, dan Islam.
Bagi Indonesia, penambahan situs-situs ini menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan warisan budaya yang berkelanjutan. Indonesia saat ini memiliki sembilan situs warisan dunia, termasuk Candi Borobudur dan Komodo. Lonjakan wisatawan pasca-penobatan seringkali menjadi pedang bermata dua: meningkatkan pendapatan namun mengancam keaslian situs. Pengalaman Thailand dalam menyiapkan buffer zoning dan rencana evakuasi dapat menjadi referensi bagi pengelola situs di Tanah Air. Ke depan, tantangan utama bukan lagi sekadar mendapatkan pengakuan, melainkan menjaga keseimbangan antara promosi pariwisata dan pelestarian. Akankah negara-negara Asia mampu menghadapi ujian ini?


