Paus Leo XIV Pimpin Misa di Sagrada Familia: Mahakarya Gaudi yang Tak Pernah Usai
Baca dalam 60 detik
- Paus Leo XIV akan memimpin misa di Sagrada Familia, menandai penghormatan Vatikan terhadap arsitek Antoni Gaudi yang kini dalam proses menuju kanonisasi.
- Rektor basilika mengungkapkan bahwa bangunan ini menyimpan teka-teki, seperti 'kotak ajaib' di fasad yang selalu berjumlah 33, usia Yesus saat wafat.
- Kunjungan paus ini juga menyoroti peran elang peregrine yang bersarang di menara sebagai bagian dari upaya konservasi alami di tengah kota Barcelona.

Paus Leo XIV dijadwalkan merayakan misa di Basilika Sagrada Familia, Barcelona, pada Rabu malam—sebuah momentum yang tidak hanya religius tetapi juga kultural, mengingat bangunan ikonik karya Antoni Gaudi itu genap seabad sejak sang arsitek meninggal. Kunjungan ini menjadi pengakuan tertinggi Vatikan terhadap mahakarya yang terus berkembang dan menyimpan misteri di setiap sudutnya.
Josep Turull, rektor basilika yang juga imam kepala kegiatan paroki, memberikan tur eksklusif kepada Associated Press untuk menunjukkan sisi-sisi tersembunyi Sagrada Familia. "Kami selalu mengatakan bahwa basilika ini tidak pernah habis untuk dijelajahi," ujarnya. "Setelah delapan tahun menjadi rektor, setiap hari saya menemukan sesuatu yang baru."
Salah satu daya tarik utama adalah fasad barat yang dikenal sebagai Facade of Passion. Gaudi sengaja mendesainnya dengan figur-figur tegang dan menyakitkan, "keras dan kejam, seolah terbuat dari tulang," untuk menggambarkan penderitaan Kristus. Namun, pematung Josep Subirachs kemudian menambahkan elemen permainan, termasuk potret Gaudi sendiri di atas pintu utama dan sebuah grid angka misterius yang menyerupai sudoku. Grid itu disebut "kotak ajaib" karena jika dijumlah dari arah mana pun selalu menghasilkan angka 33—usia Yesus saat disalib. Di dekatnya, ada labirin kecil yang melambangkan perlunya tetap beriman saat merasa tersesat.
Di puncak menara, pengunjung tidak hanya menemukan ukiran buah-buahan dan reptil yang berfungsi sebagai gargoyle, tetapi juga elang peregrine asli. Keluarga burung pemangsa ini bersarang di menara St. James dan secara alami mengendalikan populasi merpati. "Mereka memulihkan siklus kehidupan alami," kata Turull. Basilika ini dipilih sebagai lokasi reintroduksi karena merupakan salah satu tempat terakhir di Barcelona tempat burung ini bersarang sebelum menghilang pada 1970-an.
Di bawah tanah, tersembunyi kripta yang lebih kecil dan intim, tempat puluhan umat bermisa dengan tenang, jauh dari keramaian turis. Di sanalah Gaudi dimakamkan di sebuah relung sederhana. "Orang-orang datang untuk meminta doa darinya," ujar Turull sambil menunjuk ke lilin-lilin yang menyala. "Banyak yang mengaku mendapat pertolongan setelah berdoa di makam Gaudi." Vatikan saat ini sedang memproses beatifikasi Gaudi, yang membutuhkan satu mukjizat yang diakui, dan kemudian kanonisasi dengan mukjizat kedua.
Kunjungan Paus Leo juga memiliki dimensi liturgis: ia akan mengenakan jubah khusus yang dijahit untuk acara ini, dengan detail yang melambangkan pentingnya hari itu dan salib Yesus Kristus yang baru saja dipasang. Namun, Turull merahasiakan desainnya. "Beberapa hal harus tetap menjadi rahasia," katanya.
Bagi Indonesia, berita ini relevan mengingat antusiasme umat Katolik di tanah air terhadap perkembangan Gaudi menuju status santo. Kunjungan paus ke Sagrada Familia juga dapat menginspirasi dialog antara arsitektur, iman, dan pelestarian alam—nilai-nilai yang juga dijunjung di berbagai tempat ibadah di Indonesia. Pertanyaan besarnya: akankah Paus Leo mampir ke makam Gaudi dan memberikan momentum baru bagi proses kanonisasi yang telah berlangsung puluhan tahun?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8259054/original/094853000_1781441071-VID-20260614-WA0054_1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4115359/original/011653100_1659849791-IMG20220807092959.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8258679/original/060323900_1781401081-IMG_20260613_234328.jpg)
