Gempa Vulkanik Dangkal Mendominasi, Gunung Lokon Masih Berstatus Waspada
Baca dalam 60 detik
- Badan Geologi mencatat dominasi gempa vulkanik dangkal dan tektonik di Gunung Lokon sepanjang paruh kedua Mei 2026.
- Status Level II (Waspada) masih berlaku dengan radius bahaya 1,5 km dari Kawah Tompaluan.
- Masyarakat diimbau mewaspadai potensi gas beracun, erupsi freatik, dan banjir lahar saat musim hujan.

Aktivitas seismik Gunung Lokon di Tomohon, Sulawesi Utara, sepanjang 16โ31 Mei 2026 didominasi oleh gempa vulkanik dangkal dan gempa tektonik. Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat setidaknya 36 kali gempa embusan, 11 gempa vulkanik dalam, dua gempa terasa skala III MMI, serta 89 gempa tektonik jauh. Data ini menunjukkan bahwa gunung api tersebut masih dalam tahap waspada meskipun secara visual belum menunjukkan peningkatan aktivitas yang signifikan.
Pelaksana Tugas Badan Geologi, Lana Saria, mengungkapkan bahwa gempa vulkanik dangkal (VB) menjadi jenis kegempaan yang paling sering terekam, sementara gempa vulkanik dalam (VA) relatif jarang. Meski begitu, potensi ancaman tetap ada, terutama kemungkinan keluarnya gas beracun secara tiba-tiba dari kawah. Selain itu, erupsi freatikโyang dipicu oleh kontak uap panas magma dengan air hidrotermalโjuga dapat terjadi tanpa peringatan.
Pengamatan visual pada 29 Mei 2026 memperlihatkan hembusan asap putih tipis setinggi maksimal 50 meter di atas kawah, serta sinar api di dasar kawah. Fenomena ini mengindikasikan bahwa aktivitas magmatik masih berlangsung di bawah permukaan. Meskipun demikian, berdasarkan analisis visual dan seismik, belum ada tanda-tanda peningkatan aktivitas yang mengarah pada erupsi besar.
Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai berhulu dari puncak Gunung Lokon, kewaspadaan ekstra diperlukan saat musim penghujan. Banjir lahar dingin dapat terjadi jika hujan deras mengguyur puncak dalam durasi lama. Oleh karena itu, pendakian dan aktivitas di dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan dilarang. Pengunjung dan wisatawan diminta mematuhi rekomendasi ini untuk menghindari risiko.
Dalam menghadapi kemungkinan letusan dan hujan abu, Badan Geologi mengimbau masyarakat untuk tetap di dalam rumah. Jika terpaksa keluar, disarankan menggunakan masker dan kacamata pelindung untuk mencegah iritasi saluran pernapasan dan mata. Imbauan ini menjadi penting mengingat abu vulkanik dapat menyebar jauh dan mengganggu kesehatan.
Ke depan, pemantauan intensif terus dilakukan untuk mendeteksi perubahan aktivitas. Pertanyaan yang muncul adalah apakah dominasi gempa vulkanik dangkal ini merupakan fase awal menuju erupsi yang lebih besar, atau sekadar fluktuasi normal gunung api bertipe strato seperti Lokon. Masyarakat dan otoritas setempat diharapkan tetap siaga, mengingat sejarah erupsi Gunung Lokon yang kerap terjadi secara mendadak.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3938373/original/066479600_1645165606-20220218-Waspada_Cuaca_Ekstrem_di_Jakarta-4.jpg)
