Bennacer Tinggalkan Milan: Cedera dan Masa Depan di Qatar
Baca dalam 60 detik
- Kontrak Ismael Bennacer dengan AC Milan diputus sepakat setelah ia absen sejak Februari 2025 akibat cedera lutut.
- Gelandang Algeria itu akan bergabung dengan Al-Gharafa di Qatar secara gratis setelah menjalani tes medis.
- Kepergian ini menandai akhir dari masa kejayaan Bennacer yang pernah menjadi pemain terbaik Piala Afrika 2019.

Kontrak Ismael Bennacer dengan AC Milan resmi berakhir setelah kedua belah pihak sepakat untuk memutus ikatan kerja sama. Gelandang asal Algeria itu dikabarkan telah terbang ke Qatar untuk menjalani tes medis bersama Al-Gharafa, klub Liga Stars Qatar.
Pemain berusia 28 tahun itu sejatinya masih terikat kontrak hingga Juni 2027, namun cedera lutut parah yang dideritanya pada Mei 2023 mengubah segalanya. Sejak Februari 2025, Bennacer tak pernah lagi berseragam Rossoneri. Dua kali ia dipinjamkan ke Olympique Marseille dan GNK Dinamo Zagreb, namun kedua klub tidak menggunakan opsi pembelian permanen.
Kepindahan Bennacer ke Al-Gharafa sebagai pemain bebas transfer menjadi bukti nyata betapa tajamnya penurunan karier mantan pemain terbaik Piala Afrika 2019 itu. Ia pernah menjadi pilar Milan saat meraih Scudetto 2022 dan Supercoppa Italiana 2024-25, serta dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen saat membawa Algeria juara Piala Afrika 2019.
Namun, cedera lutut yang dialaminya membuat performa Bennacer tak pernah kembali ke level semula. Ia hanya tampil 178 kali untuk Milan dengan torehan 8 gol dan 12 assist. Angka yang cukup baik untuk seorang gelandang bertahan, tetapi tidak sepadan dengan ekspektasi setelah masa keemasannya.
Keputusan Milan melepas Bennacer juga mencerminkan strategi klub yang mulai membersihkan pemain-pemain dengan gaji tinggi dan kontribusi terbatas. Sementara itu, Al-Gharafa mendapatkan pemain berpengalaman yang diharapkan bisa bangkit di liga yang lebih kompetitif secara fisik.
Kepergian Bennacer juga menjadi pengingat betapa rapuhnya karier pesepak bola di level tertinggi. Cedera serius dapat mengubah segalanya dalam sekejap, seperti yang dialami pemain kelahiran 1 Desember 1996 ini. Di Qatar, ia akan bergabung dengan beberapa pemain asing lainnya yang mencari tantangan baru.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pergerakan Bennacer ke Liga Stars Qatar menambah daftar pemain top yang memilih bermain di kawasan Timur Tengah. Hal ini bisa menjadi tontonan alternatif menarik di tengah dominasi liga Eropa, dan mungkin membuka peluang bagi pemain Asia Tenggara untuk merambah kompetisi tersebut.
Akankah Bennacer mampu bangkit dan kembali ke performa terbaiknya? Ataukah ini akan menjadi babak akhir dari karier yang pernah bersinar? Keputusan Al-Gharafa memberinya kontrak menunjukkan bahwa masih ada keyakinan terhadap potensinya. Namun, hanya waktu yang bisa menjawab apakah langkah ini akan menjadi awal kebangkitan atau sekadar perhentian terakhir.



