Luke Littler Kukuhkan Dominasi: Pertahankan Gelar World Matchplay, Hancurkan Rekor Phil Taylor
Baca dalam 60 detik
- Luke Littler, 19 tahun, berhasil mempertahankan gelar World Matchplay setelah mengalahkan Gerwyn Price 18-9 di final.
- Pemuda asal Inggris itu memecahkan rekor rata-rata turnamen dan final milik Phil Taylor, mencatatkan angka 111,04 dan 111,53.
- Kemenangan ini memperkuat posisinya di puncak peringkat PDC dengan total hadiah lebih dari ยฃ3,1 juta, unggul jauh dari pesaing terdekat.

Luke Littler kembali menuliskan namanya dalam buku sejarah darts. Remaja berusia 19 tahun itu sukses mempertahankan gelar World Matchplay setelah mengalahkan unggulan ketujuh Gerwyn Price dengan skor telak 18-9 di Blackpool, sekaligus memecahkan rekor rata-rata legendaris Phil Taylor.
Kemenangan ini menjadikan Littler sebagai orang ketiga yang mampu meraih gelar back-to-back di ajang tersebut, setelah Phil Taylor dan Michael van Gerwen. Dalam pertandingan final, Littler tampil luar biasa dengan rata-rata 111,53 per lemparan โ angka tertinggi yang pernah tercatat dalam partai puncak World Matchplay, mengungguli rekor Taylor 111,23 yang dibuat pada 2013.
Tak cuma di final, performa Littler sepanjang turnamen juga mencengangkan. Ia menuntaskan turnamen dengan rata-rata keseluruhan 111,04, memecahkan rekor Taylor yang bertahan sejak 2010 sebesar 106,31. Capaian ini menegaskan statusnya sebagai pemain nomor satu dunia yang tengah berada di puncak performa.
Dari sisi finansial, kemenangan ini makin mengokohkan dominasi Littler di PDC Order of Merit. Ia membawa pulang hadiah sebesar ยฃ225.000, membuat total akumulasinya selama dua tahun mencapai ยฃ3.143.500 โ unggul hingga ยฃ2,13 juta dari Luke Humphries yang berada di posisi kedua.
Sementara itu, Gerwyn Price patut diacungi jempol. Meski kalah, ia mencatat rata-rata 104,97 di final dan berhasil naik ke peringkat keempat Order of Merit, sekaligus merebut kembali posisi pemain nomor satu Wales dari Jonny Clayton.
Prestasi Littler ini tak hanya mengagetkan jagat darts, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak atlet muda di seluruh dunia. Di Indonesia, olahraga darts mungkin belum sepopuler bulu tangkis atau sepak bola, namun capaian luar biasa seperti ini bisa menjadi pintu masuk untuk mengenalkan olahraga presisi dan strategi tersebut kepada khalayak yang lebih luas. Melihat bagaimana seorang remaja mampu memecahkan rekor yang bertahan lebih dari satu dekade, publik Indonesia bisa memetik pelajaran tentang pentingnya kerja keras, konsistensi, dan mental juara.
Pertanyaan selanjutnya: mampukah Luke Littler terus mempertahankan dominasinya di tahun-tahun mendatang? Atau akankah muncul bintang baru yang mampu menandinginya? Satu hal yang pasti, dunia darts kini memiliki wajah baru yang siap menuliskan babak-babak berikutnya.



