Melawan Keraguan Diri: Perjalanan UMKM Mutiara Bali Juara Program SisBerdaya DANA
Baca dalam 60 detik
- Gek Nanda Putri Dana Asih, pendiri By Ash Jewelry, berhasil mengubah keraguan menjadi kepercayaan diri setelah memenangkan program pemberdayaan UMKM DANA, SisBerdaya.
- UMKM perempuan di Indonesia, yang mengelola lebih dari 60% sektor ini, kerap kesulitan mengakses modal dan pelatihan, sehingga program seperti SisBerdaya menjadi krusial.
- Kemenangan By Ash Jewelry membuka peluang ekspansi fisik, namun Nanda tetap berhati-hati dalam membuka toko permanen demi menjaga kualitas.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8258632/original/092756500_1781394166-IMG_3456.jpg)
Gek Nanda Putri Dana Asih, pengusaha muda asal Bali, membuktikan bahwa hambatan terbesar dalam membangun usaha bukanlah persaingan pasar, melainkan suara keraguan di dalam kepala sendiri. Perempuan 24 tahun ini berhasil mengubah kegemaran mengenakan perhiasan menjadi bisnis bernama By Ash Jewelry, yang kini bahkan meraih juara pertama dalam program pemberdayaan UMKM SisBerdaya yang digelar DANA pada 2025.
Berawal dari ketidakpuasan terhadap aksesori yang dibelinya—mudah rusak dan tidak cocok untuk kulit sensitif—Nanda memutuskan membuat perhiasan sendiri. Ia memadukan bahan stainless steel yang kuat dengan mutiara, salah satu kekayaan alam Indonesia. Awalnya hanya untuk dipakai sendiri, produk buatannya mulai diminati teman-teman. Sejak 2022, ia merintis By Ash Jewelry sambil menyelesaikan skripsi, dan baru fokus penuh setelah lulus pada 2023 dengan mengikuti bazar dan pameran UMKM.
Namun, perjalanannya tidak mulus. Nanda sering menerima komentar miring karena perhiasannya tidak mengandung emas, dianggap terlalu mahal, atau kualitasnya direndahkan saat dititipkan ke toko. “Komentar-komentar tersebut membuat saya mempertanyakan kualitas produk saya sendiri,” ujarnya. Keraguan itu nyaris menghentikan langkahnya, hingga ia mengikuti program SisBerdaya—bukan untuk mengasah kemampuan, melainkan karena alasan sederhana: ingin merasakan tinggal di Jakarta.
Dari 2.000 peserta, By Ash Jewelry lolos ke 35 besar dan mendapat pelatihan intensif di Jakarta. Momen itu menjadi titik balik. “Di sana akhirnya tumbuh rasa percaya diri aku terhadap produkku,” tutur Nanda. Dewan juri bahkan menobatkannya sebagai juara pertama, sebuah pengakuan yang mengukuhkan keyakinannya.
Direktur Komunikasi DANA Indonesia, Olavina Harahap, menjelaskan bahwa SisBerdaya adalah program tahunan yang telah memasuki tahun keempat pada 2026. Fokusnya pada UMKM perempuan dan kelompok disabilitas. “UMKM perempuan umumnya kurang mendapatkan akses kredit atau pelatihan. Kami menyediakan empat pilar: mentoring, business matching, kompetisi, dan pitching,” ujarnya. Pemenang mendapatkan bantuan modal usaha, dan tahun lalu salah satu pemenangnya adalah By Ash Jewelry dari Bali.
Bagi Nanda, kemenangan itu bukan sekadar prestasi, melainkan fondasi untuk langkah berikutnya. Saat ini By Ash Jewelry masih mengandalkan penjualan daring dan kehadiran mingguan di Sunday Market. Banyak pelanggan ingin mencoba produk secara langsung, namun Nanda dan kakaknya belum memiliki toko permanen. Mereka bertekad membuka outlet pertama dengan perhitungan matang. “Membuka toko bukan soal memperbesar usaha secepat mungkin, melainkan langkah yang harus dilakukan dengan perhitungan matang,” tegasnya.
Kisah Nanda mencerminkan realitas banyak pelaku UMKM di Indonesia: perjuangan melawan keraguan diri seringkali lebih berat daripada tantangan eksternal. Dengan dukungan program pemberdayaan seperti SisBerdaya, harapannya semakin banyak perempuan muda yang berani mengambil langkah. Pertanyaannya, akankah model pendampingan ini mampu menjangkau lebih banyak UMKM di pelosok negeri yang masih bergulat dengan keraguan serupa?



