Pakistan Lancarkan Serangan Udara ke Afganistan, Renggut Nyawa Anak-Anak
Baca dalam 60 detik
- Pakistan mengklaim serangan udara presisi menewaskan 26 militan, sementara Taliban Afganistan melaporkan 13 korban jiwa termasuk 11 anak-anak.
- Serangan ini memutus gencatan senjata rapuh yang disepakati Oktober lalu dan memicu kembali ketegangan perbatasan yang telah berlangsung puluhan tahun.
- Eskalasi ini berpotensi mengguncang stabilitas kawasan Asia Selatan, termasuk mempengaruhi dinamika keamanan dan perdagangan regional yang juga berdampak pada Indonesia.

Pakistan kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Afganistan, menewaskan puluhan orang dan memicu gelombang protes dari pemerintah Taliban. Serangan yang terjadi pada Rabu (18/12) itu menargetkan empat lokasi yang disebut sebagai basis militan di sepanjang perbatasan kedua negara, sekaligus mengakhiri masa tenang yang berlangsung sejak Februari lalu.
Menteri Informasi Pakistan Attaullah Tarar menyatakan bahwa serangan "terkalibrasi" itu menghancurkan pusat pelatihan dan gudang amunisi militan. Menurutnya, operasi ini merupakan respons terhadap serangkaian serangan teroris di Pakistan yang didalangi dari Afganistan. Namun, klaim ini langsung dibantah keras oleh Taliban Afganistan. Juru bicara Zabihullah Mujahid menyebutkan bahwa 13 orang tewas, termasuk 11 anak-anak, seorang perempuan, dan seorang lanjut usia. "Ini adalah pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Afganistan," tegas Mujahid dalam pernyataan resminya.
Ketegangan antara Islamabad dan Kabul bukanlah hal baru. Pakistan selama bertahun-tahun menuding Afganistan menjadi tempat persembunyian kelompok militan seperti Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) yang kerap melancarkan serangan lintas batas. Sebaliknya, Taliban Afganistan berulang kali menyangkal tuduhan tersebut dan menegaskan tidak akan membiarkan wilayahnya digunakan untuk mengancam negara lain. Perseteruan ini sempat mereda setelah gencatan senjata pada Oktober lalu, namun serangan terbaru menunjukkan betapa rapuhnya kesepakatan tersebut.
Bagi Indonesia, konflik di perbatasan Pakistan-Afganistan memiliki implikasi yang tidak bisa diabaikan. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia dan anggota aktif Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Indonesia berkepentingan terhadap stabilitas kawasan Asia Selatan. Eskalasi kekerasan dapat memicu gelombang pengungsi baru, memperkuat jaringan terorisme transnasional, dan mengganggu jalur perdagangan regional. Lebih jauh, situasi ini juga berpotensi mempengaruhi kebijakan luar negeri Indonesia yang selama ini mendorong dialog damai dan penyelesaian konflik secara diplomatik.
Para analis menilai bahwa serangan Pakistan ini merupakan sinyal bahwa pendekatan militer masih diutamakan ketimbang diplomasi. Meskipun Pakistan mengklaim serangannya bersifat terbatas dan presisi, korban sipil yang tinggi justru dapat memperkuat sentimen anti-Pakistan di Afganistan dan mempersulit upaya rekonsiliasi. Dunia internasional, termasuk PBB dan negara-negara Barat, telah menyerukan penghentian permusuhan dan kembali ke meja perundingan. Namun, dengan masing-masing pihak berpegang pada narasinya sendiri, jalan menuju perdamaian tampak semakin terjal.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah gencatan senjata Oktober masih bisa diselamatkan, atau justru akan berujung pada konflik terbuka yang lebih luas. Pakistan dan Afganistan sama-sama memiliki kapasitas militer yang tidak bisa dianggap remeh, dan sejarah menunjukkan bahwa pertempuran perbatasan sering kali berdarah-darah. Tanpa adanya mekanisme pengawasan yang kredibel dan komitmen politik yang kuat dari kedua belah pihak, siklus kekerasan ini kemungkinan akan terus berulang, meninggalkan lebih banyak korban jiwa dan ketidakstabilan di kawasan.



