AS Pangkas Pasukan NATO di Eropa, Eropa dan Kanada Diminta Isi Kekosongan
Baca dalam 60 detik
- Pentagon mengurangi alokasi kapal induk, kapal selam, jet tempur, dan drone untuk NATO, memicu penyesuaian rencana pertahanan Eropa.
- Jenderal AS Alex Grynkewich mendesak sekutu Eropa dan Kanada segera menyediakan aset militer pengganti, terutama pesawat dan kapal perang.
- Keputusan ini memperkuat pergeseran prioritas AS ke Indo-Pasifik, meninggalkan Eropa dengan beban pertahanan yang lebih besar.

Washington secara resmi mengurangi jumlah alutsista yang disiagakan untuk pertahanan Eropa di bawah kerangka NATO, memaksa aliansi militer terbesar di dunia itu merancang ulang strategi menghadapi potensi agresi Rusia. Langkah ini menandai pergeseran paling signifikan dalam postur pertahanan Atlantik Utara sejak Perang Dingin berakhir.
Panglima Tertinggi Sekutu NATO, Jenderal Alex Grynkewich, mengakui bahwa Amerika Serikat tetap akan menyediakan "kemampuan terbatas namun kritis" bagi aliansi. Namun, ia menekankan perlunya Eropa dan Kanada segera mengisi celah yang ditinggalkan dengan pesawat berawak dan tak berawak serta kapal angkatan laut. "Kami perlu fokus pada hal-hal yang bisa diperoleh dan diterjunkan dengan cepat, serta dapat ditingkatkan skalanya secara berkelanjutan," ujarnya di ILA Berlin Air Show, Kamis (12/6).
Pengurangan ini mencakup satu kelompok tempur kapal induk, sejumlah kapal selam, jet tempur, pesawat patroli maritim, pesawat pengisian bahan bakar, dan drone. Meski demikian, kemampuan antariksa AS yang mendukung penargetan tetap tersedia. Seorang pejabat NATO yang enggan disebut namanya mengonfirmasi detail tersebut kepada Associated Press, Jumat (13/6).
Keputusan ini bukanlah kejutan. Sejak setahun lalu, pemerintahan Trump telah memberi sinyal bahwa Eropa bukan lagi prioritas keamanan utama AS. Sekutu Eropa dan Kanada telah menunggu dengan cemas rincian rencana pengurangan tersebut. "Mereka tahu pemotongan akan terjadi, tetapi tidak seberapa besar, seberapa cepat, atau dalam bentuk apa," kata pejabat NATO itu.
Dalam pertemuan para menteri pertahanan aliansi pada 2-3 Juni, Grynkewich secara terbuka meminta sekutu untuk menyediakan aset pengganti. Tantangannya, banyak dari sumber daya militer tersebut langka di Eropa. Washington ingin melihat komitmen konkret sekutu pada KTT mendatang di Turki, di mana Presiden Trump dan para pemimpin NATO akan bertemu.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi tidak langsung. Pergeseran fokus AS ke Indo-Pasifik berarti peningkatan aktivitas militer di kawasan yang berdekatan dengan Indonesia. Jakarta perlu mencermati potensi perubahan keseimbangan kekuatan di Laut China Selatan dan Samudra Hindia, serta kemungkinan peningkatan kerja sama pertahanan bilateral dengan AS untuk mengimbangi pengaruh China.
Di sisi lain, NATO juga mengumumkan pengurangan pasukan penjaga perdamaian di Kosovo (KFOR) yang telah beroperasi sejak 1999. Jumlah personel KFOR yang pernah mencapai 50.000 kini akan dioptimalkan. Grynkewich menegaskan langkah ini bukan soal angka, melainkan efisiensi. Saat ini, AS mengerahkan 590 tentara di KFOR, dilengkapi helikopter Black Hawk di Pangkalan Camp Bondsteel.
Meski ada pengurangan, Grynkewich menilai Rusia saat ini tidak menginginkan konflik langsung dengan NATO. Intelijen menunjukkan Moskow masih terperangkap dalam perang di Ukraina dan kesulitan merekrut tentara. Namun, badan intelijen Eropa memperingatkan bahwa Presiden Vladimir Putin bisa melancarkan serangan ke negara NATO lain dalam tiga hingga lima tahun, terutama jika ia menang di Ukraina.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Eropa dan Kanada menutup celah pertahanan yang ditinggalkan AS dalam waktu singkat? Atau justru ini akan menjadi ujian terbesar bagi solidaritas NATO sejak didirikan?