PM Laos ke Rusia: Perkuat Hubungan Bilateral dan Peringatan 35 Tahun ASEAN-Rusia
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Laos, Sonexay Siphandone, dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke Rusia pada 14-17 Juni untuk mempererat kerja sama bilateral.
- Setelah itu, ia akan memimpin delegasi Laos menghadiri KTT Peringatan 35 Tahun Hubungan ASEAN-Rusia di Kazan pada 17-19 Juni.
- Kunjungan ini menandai komitmen Laos dalam diplomasi multilateral dan dapat membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat kemitraan dengan Rusia di kawasan.

Perdana Menteri Laos, Sonexay Siphandone, akan memimpin delegasi tingkat tinggi dalam kunjungan resmi ke Rusia pada 14-17 Juni, sebelum menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Peringatan 35 Tahun Hubungan ASEAN-Rusia di Kazan. Langkah ini menjadi sinyal penting bagi dinamika geopolitik di kawasan, termasuk bagi Indonesia yang juga merupakan anggota ASEAN.
Kunjungan tersebut dilakukan atas undangan Perdana Menteri Rusia, Mikhail Mishustin, sebagaimana diumumkan oleh Kementerian Luar Negeri Laos pada 12 Juni. Pertemuan bilateral di Moskow ini diharapkan mampu memperkuat kerja sama di berbagai sektor, mulai dari perdagangan, investasi, hingga pertahanan. Laos, yang saat ini memegang posisi strategis sebagai Ketua ASEAN 2024, tampak memanfaatkan momentum ini untuk memperdalam hubungan dengan salah satu mitra dialog utama blok tersebut.
Setelah rangkaian pertemuan di Moskow, Sonexay akan bertolak ke Kazan untuk bergabung dengan para pemimpin negara anggota ASEAN dan Rusia dalam KTT yang digelar pada 17-19 Juni. Acara ini menandai perjalanan panjang kemitraan ASEAN-Rusia yang telah berlangsung selama 35 tahun. Bagi Laos, partisipasi ini menjadi ajang untuk menunjukkan perannya dalam diplomasi multilateral dan memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang di kawasan.
Kunjungan ini juga memiliki implikasi bagi Indonesia. Sebagai sesama anggota ASEAN, Indonesia dapat memanfaatkan hasil pertemuan ini untuk mengevaluasi strategi diplomasinya dengan Rusia. Hubungan dagang Indonesia-Rusia yang mencapai sekitar 3 miliar dolar AS pada 2023 masih memiliki ruang untuk ditingkatkan, terutama di sektor energi dan teknologi. Selain itu, peran Rusia sebagai mitra dialog ASEAN kerap menjadi penyeimbang dalam isu-isu keamanan regional, seperti Laut China Selatan dan krisis Myanmar.
Menurut analis hubungan internasional dari Universitas Indonesia, kunjungan PM Laos ke Rusia menunjukkan bahwa negara-negara ASEAN kecil pun mampu memainkan peran diplomatik yang signifikan. โLaos, meskipun bukan kekuatan ekonomi besar, berhasil memanfaatkan posisinya sebagai Ketua ASEAN untuk memperkuat hubungan bilateral dengan Rusia. Ini bisa menjadi contoh bagi Indonesia untuk lebih proaktif dalam menjalin kemitraan strategis,โ ujarnya.
Ke depan, hasil konkret dari kunjungan ini akan dinanti, terutama terkait komitmen investasi Rusia di Laos dan dukungan teknis untuk proyek-proyek infrastruktur. Pertanyaan yang muncul adalah apakah Indonesia akan mengikuti jejak Laos dengan menggelar kunjungan serupa ke Rusia dalam waktu dekat, mengingat hubungan kedua negara yang telah lama terjalin namun belum optimal.



