Skandal David Sullivan: Bos West Ham Dilarang Akses Tim Putri dan Junior Selama Tiga Tahun
Baca dalam 60 detik
- David Sullivan, pemilik mayoritas West Ham United, dilarang berinteraksi dengan tim putri dan akademi klub sejak 2023 setelah penyelidikan FA atas dugaan pelanggaran perlindungan.
- Larangan itu dirahasiakan publik, sementara Sullivan tetap tampil di pertandingan tim utama pria, memicu kritik atas transparansi penanganan kasus.
- Delapan wanita melapor ke polisi terkait perilaku Sullivan, namun belum ada tuntutan; regulator sepak bola Inggris mendesak klarifikasi dari FA dan West Ham.

David Sullivan, pemilik saham terbesar West Ham United, telah menjalani larangan kontak dengan tim putri dan kelompok usia muda klub sejak 2023 akibat kekhawatiran perlindungan anak dan perempuan. Larangan yang dirahasiakan ini baru terungkap setelah investigasi bersama BBC dan Times mengungkap tumpukan tuduhan pelecehan seksual terhadap miliarder berusia 77 tahun itu.
Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) membuka penyelidikan pada 2023 setelah menerima pengaduan tentang perilaku Sullivan, yang saat itu menjabat sebagai salah satu ketua klub. Sebagai respons, sebuah panel perlindungan yang terdiri dari perwakilan klub, FA, dan otoritas setempat memutuskan untuk membatasi akses Sullivan ke tim putri dan akademi. Larangan itu mencakup larangan bertemu pemain secara pribadi dan menghadiri pertandingan mereka, dan masih berlaku hingga kini.
Sullivan membantah tuduhan tersebut dan menyebut pembatasan itu sebagai "kesepakatan sementara yang dinegosiasikan" dengan FA untuk menyelesaikan keluhan anonim lama. Dalam pernyataan terbaru, ia mengklaim tidak pernah bertemu pemain akademi atau tim putri secara "1-2-1" selama 16 tahun di West Ham. "Saya melihatnya sebagai pembatasan yang tidak berarti, karena tidak memengaruhi pekerjaan saya, jadi saya menerimanya demi ketenangan," ujarnya. Namun, ia menolak menyebutnya sebagai larangan disipliner.
Larangan ini tidak diumumkan secara terbuka, dan Sullivan tetap tampil sebagai figur terkemuka di klub, sering duduk di kotak direktur pada pertandingan tim utama pria di London Stadium. Ia baru mengundurkan diri sebagai ketua bersama dan direktur pada akhir pekan lalu, tepat sebelum hasil investigasi BBC dan Times dipublikasikan. Dalam pernyataan pengunduran dirinya, Sullivan mengatakan tuduhan itu "tidak benar secara faktual dan sepenuhnya palsu" serta merupakan "serangan yang tidak adil" terhadap dirinya.
Investigasi tersebut mengungkap bahwa tuduhan terhadap Sullivan berasal dari wanita yang saat itu berusia akhir remaja atau awal dua puluhan, yang mencari pekerjaan sebagai model di surat kabar Daily dan Sunday Sport miliknya. Tuduhan mencakup penyalahgunaan kekuasaan dan pemangsaan seksual. Delapan wanita, termasuk satu yang menjadi bagian dari investigasi, telah melapor ke polisi, namun tidak ada kasus yang berujung pada tuntutan. Polisi Metropolitan mengatakan pihaknya menangani laporan tersebut dengan serius dan akan melakukan penyelidikan yang sesuai.
Regulator Sepak Bola Independen (IFR) telah menghubungi West Ham terkait "tuduhan yang sangat serius" dan meminta informasi mendesak tentang kelayakan Sullivan untuk perannya. Menteri Kebudayaan Lisa Nandy menyebut pengungkapan ini "sangat mengerikan" dan mendesak FA serta West Ham memberikan penjelasan penuh dan segera. Perdana Menteri Sir Keir Starmer melalui juru bicaranya menyebut kesaksian para wanita sebagai "menyedihkan".
Bagi sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam penanganan kasus pelecehan di lingkungan klub. Regulasi perlindungan yang ketat dan investigasi independen menjadi krusial, terutama ketika klub memiliki figur berpengaruh dengan kekuasaan besar. Pertanyaan yang tersisa: akankah FA dan West Ham akhirnya membuka detail penanganan kasus ini, atau justru semakin menutupinya?



