Regulator Sepak Bola Inggris Desak West Ham Klarifikasi Tuduhan Terhadap David Sullivan
Baca dalam 60 detik
- Regulator sepak bola independen Inggris meminta informasi mendesak dari West Ham terkait tuduhan serius terhadap pemilik klub, David Sullivan, yang dituduh menyalahgunakan kekuasaan terhadap model muda.
- Tuduhan yang diungkap BBC Panorama dan The Times mencakup periode puluhan tahun, ketika Sullivan membangun bisnis dari industri dewasa, dan telah dibantah keras olehnya.
- Sullivan mundur dari jabatan ketua bersama West Ham sebelum publikasi tuduhan, dan regulator berwenang membuka investigasi formal jika ditemukan bukti pelanggaran integritas.

Regulator sepak bola independen Inggris (IFR) telah mengirimkan surat kepada West Ham United terkait tuduhan "sangat serius" yang menimpa salah satu pemilik klub, David Sullivan, dan meminta klarifikasi segera terkait kelayakannya memegang jabatan di klub Premier League tersebut.
Tuduhan yang diungkap oleh program investigasi BBC Panorama dan harian The Times menyebutkan bahwa miliarder berusia 77 tahun itu diduga menyalahgunakan kekuasaan dan memangsa sejumlah perempuan untuk kepentingan seksual, beberapa di antaranya masih berusia remaja akhir. Sullivan membantah keras semua tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai "kebohongan total" yang didasarkan pada fakta yang tidak benar.
Kementerian Digital, Budaya, Media, dan Olahraga Inggris (DCMS) menyatakan bahwa tuduhan ini "sangat memprihatinkan" dan harus ditangani dengan keseriusan penuh oleh otoritas terkait. Pemerintah Inggris menegaskan komitmennya untuk memberantas pelecehan dan penyalahgunaan kekuasaan di tempat kerja, termasuk di industri sepak bola yang selama ini menjadi sorotan.
Tuduhan terhadap Sullivan mencakup rentang waktu puluhan tahun, ketika ia membangun kekayaan dari industri dewasa, penerbitan surat kabar, dan sepak bola. Para perempuan yang melapor adalah model muda yang mencari pekerjaan di surat kabar Daily Sport dan Sunday Sport miliknya. Mereka mengaku mengalami pelecehan dan penyalahgunaan kekuasaan oleh Sullivan, yang saat itu menjadi tokoh berpengaruh di industri media dan dewasa.
Dalam pernyataan pengunduran dirinya, Sullivan mengatakan bahwa ia mundur untuk fokus membela diri terhadap tuduhan yang menurutnya "salah secara faktual dan sepenuhnya palsu" serta menyebut investigasi Panorama dan The Times sebagai "tidak adil secara fundamental". Ia menambahkan bahwa setelah seumur hidup berkecimpung di industri dewasa dan bertemu ribuan perempuan, "sangat tidak dapat dihindari bahwa sejumlah kecil klaim perilaku tidak pantas diajukan terhadap saya".
West Ham United juga mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan bahwa Sullivan telah membantah melakukan "perilaku ilegal" dan memilih mundur "untuk menghindari gangguan terhadap klub sambil ia menangani masalah ini secara pribadi". Klub tidak memberikan komentar lebih lanjut mengenai substansi tuduhan.
IFR, yang dibentuk sebagai respons terhadap skandal tata kelola di sepak bola Inggris, diperkirakan akan menggunakan kewenangannya untuk menilai apakah ada dasar kekhawatiran terkait peran Sullivan di klub. Faktor yang dipertimbangkan regulator meliputi kejujuran dan integritas seseorang. Jika ditemukan bukti yang cukup, IFR dapat membuka investigasi formal yang berpotensi memengaruhi kepemilikan atau posisi Sullivan di West Ham.
Bagi sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam tata kelola klub. Regulator sepak bola nasional, PSSI, belum memiliki kewenangan serupa untuk menilai kelayakan pemilik klub, namun desakan untuk reformasi tata kelola semakin menguat di tengah maraknya kasus penyalahgunaan kekuasaan di industri olahraga global. Pertanyaan yang muncul: akankah Indonesia mengikuti jejak Inggris dengan membentuk badan pengawas independen untuk menjaga integritas sepak bola nasional?



