Saat Seruan Kopi dan Camilan untuk Demonstran Membanjiri Medsos IU: Antara Dukungan dan Pelecehan
Baca dalam 60 detik
- Aktor dan penyanyi IU dibanjiri komentar yang memintanya menyediakan makanan bagi demonstran terkait kekurangan surat suara dalam pemilu lokal Korea Selatan.
- Tindakan ini dinilai sebagai trolling terkoordinasi, merujuk pada aksi filantropi IU di masa lalu saat demonstrasi impeachment mantan Presiden Yoon.
- Belum ada pernyataan resmi dari agensi IU, sementara warganet Indonesia membandingkan fenomena ini dengan cancel culture dan tekanan publik pada figur publik di Tanah Air.

Bintang K-pop dan aktris IU mendadak menjadi sasaran gelombang komentar daring yang memintanya menyediakan kopi dan camilan bagi para demonstran yang memprotes kekurangan surat suara dalam pemilihan lokal Korea Selatan pada 3 Juni lalu. Aksi yang disebut sebagai trolling terkoordinasi ini memicu perdebatan tentang batas antara dukungan dan pelecehan di media sosial.
Unggahan terbaru IU di Instagram dibanjiri ratusan permintaan serupa, sebagian besar menuntut agar ia mengulang aksi filantropinya saat demonstrasi besar menuntut pemakzulan mantan Presiden Yoon Suk-yeol. Saat itu, IU menyediakan makanan dan minuman gratis bagi peserta aksi, sebuah langkah yang mendapat pujian luas. Namun, kali ini permintaan serupa dianggap sebagai tekanan yang tidak pantas.
Pengamat media sosial menilai fenomena ini sebagai bentuk mobilisasi daring yang terorganisir. “Ini bukan lagi sekadar permintaan, tapi sudah masuk kategori pelecehan karena dilakukan secara masif dan berulang,” ujar seorang analis komunikasi digital yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan bahwa IU tidak memiliki kewajiban untuk memenuhi tuntutan tersebut, terlebih karena isu yang mendasarinya—kekurangan surat suara—adalah masalah teknis penyelenggara pemilu, bukan kesalahan figur publik.
Di Indonesia, fenomena ini mengingatkan pada tekanan publik terhadap selebritas untuk bersikap dalam isu-isu politik atau sosial. Beberapa warganet menyebutnya sebagai bentuk cancel culture ala Korea, di mana figur publik dihakimi berdasarkan konsistensi aksi sosial mereka. “Artis bukan mesin ATM yang bisa diperintah kapan saja,” tulis seorang pengguna Twitter. Namun, ada pula yang menilai bahwa IU, sebagai figur dengan pengaruh besar, seharusnya peka terhadap situasi politik.
Kekurangan surat suara dalam pemilu lokal Korea Selatan sendiri telah memicu protes dari partai oposisi yang menuntut investigasi. Komisi Pemilihan Umum Korea Selatan berjanji akan mengevaluasi prosedur untuk mencegah insiden serupa. Namun, perhatian publik justru teralihkan pada drama media sosial yang melibatkan IU.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah tekanan daring seperti ini akan memengaruhi cara IU dan selebritas Korea lainnya merespons isu sosial di masa depan? Atau justru sebaliknya, publik akan semakin kritis terhadap tuntutan yang dianggap tidak proporsional? Yang jelas, kasus ini menjadi pengingat bahwa di era digital, setiap aksi filantropi seorang figur publik bisa menjadi preseden yang kemudian digunakan untuk menekan mereka di kemudian hari.



