Keke Palmer: Menjadi Ibu Jauh Lebih Indah dari yang Saya Bayangkan
Baca dalam 60 detik
- Aktris Keke Palmer mengaku peran sebagai ibu mengubah hidupnya secara total, melebihi ekspektasinya.
- Meski harus berpisah dengan ayah sang anak, Palmer mengandalkan dukungan keluarga dan pengasuh untuk menjalani peran barunya.
- Palmer kini lebih terbuka menjalin hubungan dengan sesama pekerja industri hiburan, berbeda dengan pandangannya di masa lalu.

Keke Palmer, aktris yang dikenal lewat film Hustlers, mengungkapkan bahwa menjadi ibu adalah pengalaman yang jauh melampaui bayangannya. Dalam wawancara terbaru dengan Rolling Stone, perempuan 32 tahun itu menyebut putranya, Leo, yang lahir pada Februari 2023, telah mengubah hidupnya secara fundamental.
“Dia segalanya bagiku. Jujur, dia anak yang sangat keren. Paling menyenangkan, dan sangat pintar,” ujar Palmer. Ia menambahkan bahwa peran sebagai ibu, yang sebelumnya ia duga akan menyenangkan, ternyata “jauh lebih baik dari yang bisa saya gambarkan”.
Meski mengakui bahwa memiliki anak tidak cocok untuk semua orang, Palmer menegaskan bahwa menjadi ibu memang selalu menjadi panggilan hidupnya. “Saya bisa melihat seseorang, menjadi bagian dari hidupnya, dan mendukungnya menjadi dirinya sendiri. Itu hal paling keren,” katanya.
Namun, Palmer juga jujur tentang sisi sulit menjadi ibu. Ia bercerita bahwa Leo kadang bersikap “jahat”, seperti saat ia baru pulang dari Pilates dan sang putra berkata, “Mama, kamu bau.” Palmer menanggapinya dengan humor, “Permisi?”
Setelah berpisah dari Darius Jackson pada Oktober 2023, Palmer mengaku tidak sendirian. Ia tinggal bersama saudari-saudarinya, dan ibunya selalu siap sedia. “Desa saya besar. Saya tidak tahu apa yang bisa saya lakukan tanpa semua bantuan yang saya miliki,” ungkapnya.
Dalam hal percintaan, Palmer mengaku pandangannya berubah. Dulu ia enggan berkencan dengan sesama artis karena banyaknya “orang gila” di industri. Namun kini ia lebih terbuka. “Saya sadar ada orang gila di mana-mana. Jadi saya lebih terbuka pada entertainer atau orang di industri saya,” katanya. Ia menambahkan dengan nada bercanda bahwa ia lebih mirip karakter Miss Congeniality daripada Michelle Pfeiffer.
Bagi publik Indonesia, kisah Palmer mengingatkan pada perjuangan para ibu pekerja, terutama di industri kreatif yang menuntut waktu dan energi besar. Dukungan keluarga dan komunitas menjadi kunci, seperti yang dialami Palmer. Pertanyaannya, sejauh mana kesadaran akan pentingnya “desa” ini juga diterapkan di Indonesia, di mana tekanan sosial pada ibu seringkali tinggi?



