Mantan Pacar Minta Ganti Rugi Tas Mewah, Artis Hong Kong Ini Balas dengan Cek Lebih
Baca dalam 60 detik
- Aktris TVB Regina Ho mengaku mantan kekasihnya menagih uang pengganti tas mewah senilai HK$26.000 setelah putus.
- Ho membayar HK$30.000—lebih dari yang diminta—dan menyuruh mantannya pergi dengan ucapan 'kembaliannya simpan saja'.
- Kisah ini memicu diskusi tentang etika memberi hadiah dalam hubungan, relevan dengan budaya konsumerisme di Indonesia.

Aktris TVB sekaligus ibu baru, Regina Ho, mengungkap pengalaman pahitnya saat putus cinta di sebuah acara varietas. Mantan kekasihnya nekat meminta uang ganti rugi atas sebuah tas mewah yang pernah dihadiahkan kepadanya saat masih berpacaran—sebuah permintaan yang sontak mengejutkan rekan-rekannya di studio.
Dalam tayangan yang disiarkan pekan ini, Ho yang kini berusia 32 tahun menceritakan bahwa sang mantan menagih biaya penggantian tas senilai HK$26.000 (sekitar Rp52 juta). Permintaan itu muncul setelah hubungan mereka berakhir, membuat Ho merasa diperlakukan tidak adil. Alih-alih berdebat, ia memilih mengambil buku cek dan menuliskan nominal HK$30.000 (sekitar Rp60 juta) kepada mantannya. “Keep the change. And leave this instant,” ujarnya, seperti dikutip dari pengakuannya di acara tersebut.
Rekan sesama bintang, Jacquelin Ch'ng dan Venus Chi, yang hadir sebagai bintang tamu, tampak terperangah. Ch'ng sempat berspekulasi bahwa tuntutan itu mungkin hanya cara mantan Ho untuk menarik perhatiannya kembali. Namun, Ho dengan tegas membantah. Menurutnya, tindakan semacam itu justru akan membuat perempuan semakin marah, bukan meluluhkan hati.
Insiden ini memicu perbincangan hangat di media sosial Hong Kong dan Malaysia, tempat berita ini pertama kali dilaporkan. Banyak netizen memuji ketegasan Ho yang tidak hanya membayar lebih, tetapi juga menyampaikan pesan perpisahan yang keras. Di sisi lain, kasus ini membuka kembali diskusi tentang etika memberi dan menerima hadiah dalam hubungan asmara, terutama barang-barang bernilai tinggi.
Dalam segmen lain di acara yang sama, Ho juga berbagi kisah tentang seorang teman suaminya yang kerap mengajak suaminya minum-minum setiap kali bertengkar dengan istrinya. Awalnya Ho bersikap maklum, namun setelah pola itu berulang dua minggu kemudian, ia turun tangan. “Berhentilah pergi keluar untuk membahasnya. Datanglah ke rumahku, aku akan membantu menyelesaikannya,” katanya kepada teman tersebut. Alhasil, Ho berperan sebagai konselor pernikahan dadakan, mendengarkan keluh kesah sang teman hingga pukul dua pagi.
Kisah Ho ini menarik untuk dicermati di Indonesia, di mana budaya memberi hadiah mahal dalam pacaran juga marak. Banyak pasangan muda yang terbiasa saling memberikan barang branded sebagai simbol kasih sayang. Namun, ketika hubungan berakhir, tak jarang muncul sengketa soal kepemilikan hadiah. Kasus Ho mengingatkan bahwa hadiah, menurut hukum di banyak negara, umumnya dianggap sebagai hibah yang tidak dapat ditarik kembali kecuali ada perjanjian khusus. Di Indonesia, Pasal 1666 KUH Perdata menyebutkan bahwa hibah adalah pemberian sukarela tanpa syarat. Artinya, meminta kembali hadiah setelah putus bisa dianggap melanggar etika, bahkan hukum.
Ke depan, publik menanti apakah pengakuan Ho akan mendorong lebih banyak korban hubungan toksik untuk bersikap tegas. Ataukah justru akan memicu gelombang permintaan ganti rugi serupa di kalangan selebriti? Yang jelas, sikap Ho telah menjadi contoh nyata bahwa harga diri tidak bisa ditukar dengan barang mewah.



