Surat dari Istri Almarhum Diogo Jota: Andy Robertson Tak Akan Pergi Sendiri ke Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Kapten Skotlandia Andy Robertson menerima surat emosional dari Rute Cardoso, janda Diogo Jota, yang memintanya membawa mimpi sang suami ke Piala Dunia 2026.
- Robertson dan Jota, rekan setim di Liverpool, kerap membahas impian tampil di Piala Dunia; Skotlandia akhirnya lolos setelah 28 tahun absen.
- Surat tersebut menjadi pengingat bahwa sepak bola mampu menjembatani duka dan harapan, serta memberi dimensi baru pada perjuangan Robertson di Amerika Utara.
Kapten timnas Skotlandia, Andy Robertson, akan membawa lebih dari sekadar ambisi pribadi saat berlaga di Piala Dunia 2026. Sebuah surat dari Rute Cardoso, istri mendiang Diogo Jota, memintanya untuk menghidupkan mimpi sang suami yang telah tiada di turnamen empat tahunan tersebut.
Dalam inisiatif FIFA bertajuk 'Letters That Unite', Robertson membaca surat yang ditulis Cardoso setelah ia menyaksikan wawancara emosional bek Liverpool itu pasca-lolosnya Skotlandia ke putaran final. Saat itu, Robertson mengaku tak bisa berhenti memikirkan Jota, sahabatnya yang meninggal dunia pada 2024. โKami sering bicara tentang Piala Dunia. Dia absen karena cedera, saya karena Skotlandia tidak lolos. Kami selalu membahas bagaimana rasanya bisa ke sana,โ ujarnya kepada BBC.
Cardoso, dalam suratnya, berterima kasih kepada Robertson karena terus mengenang Jota. โSaat kudengar kata-katamu, aku sadar Diogo tak pernah benar-benar meninggalkan lapangan. Dengan lolos ke Piala Dunia, kau tak pergi sendirian; kau membawa mimpinya,โ tulisnya. Ia menambahkan, โSaat kau melangkah ke lapangan, Diogo akan bersamamu dalam pikiran, langkah, dan hatimu.โ
Robertson mengaku tersentuh dan berjanji akan terus mengenang Jota. โSurat itu akan melekat lama di ingatanku. Kami akan memastikan namanya tak pernah dilupakan, kenangannya selalu dirawat. Kadang kami tertawa, kadang menangis. Saat saya melangkah di Piala Dunia, dia akan ada di benak saya. Saya bermain bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk kami berdua,โ katanya.
Kisah ini mengingatkan bahwa sepak bola bukan sekadar kompetisi, melainkan juga ruang untuk berduka, mengenang, dan merayakan persahabatan. Bagi penggemar di Indonesia, momen seperti ini menambah dimensi emosional Piala Dunia 2026, yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Pertanyaan yang tersisa: akankah Robertson mampu mewujudkan mimpi yang diwariskan Jota, atau justru beban emosional ini menjadi motivasi ekstra bagi Skotlandia untuk melangkah jauh?



