Piala Dunia 2026: Bisakah Tim AS Bersinar di Kandang Sendiri?
Baca dalam 60 detik
- Timnas AS di bawah asuhan Mauricio Pochettino bersiap menjalani Piala Dunia 2026 sebagai tuan rumah bersama Kanada dan Meksiko, dengan modal skuad bertalenta dan pengalaman di liga Eropa.
- Christian Pulisic, Folarin Balogun, dan Weston McKennie menjadi tumpuan utama, namun masalah cedera pemain bertahan seperti Chris Richards masih menjadi kekhawatiran.
- Dukungan penuh dari publik Amerika yang terlihat dalam laga uji coba melawan Jerman menjadi sinyal positif, meski sejarah tim putra AS di Piala Dunia belum gemilang.

Gol spektakuler Antonee Robinson ke gawang Jerman di hadapan 63.000 penonton di Chicago pada laga uji coba akhir pekan lalu bukan sekadar hiburan semata. Itu adalah gambaran awal tentang apa yang mungkin bisa diraih tim nasional putra Amerika Serikat saat mereka menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama Kanada dan Meksiko.
Meski pertandingan berakhir dengan kekalahan 2-1, serangan cepat yang diperagakan Robinson dan rekan-rekannya menunjukkan potensi ledakan ofensif yang bisa menjadi momok bagi lawan di turnamen nanti. Lebih dari itu, atmosfer stadion yang bergemuruh membuktikan bahwa publik AS sudah siap menjadi pemain ke-12 bagi skuad asuhan Mauricio Pochettino.
John Harkes, legenda sepak bola AS yang berlaga di Piala Dunia 1990 dan 1994, menilai tim ini memiliki peluang besar. “Mereka sangat berbakat. Tapi kunci sukses di Piala Dunia adalah kekompakan tim, ketahanan, dan kemampuan berjuang saat tertinggal,” ujarnya kepada BBC. Harkes menekankan bahwa pengalaman para pemain di liga-liga top Eropa menjadi modal berharga, asalkan mereka tetap bugar.
Pochettino, yang pernah menukangi PSG dan Chelsea, dianggap sebagai perekrutan besar bagi USMNT. Ini adalah pekerjaan internasional pertamanya, dan ia ingin memulihkan reputasinya setelah hasil kurang konsisten di Eropa. Harkes menilai, “Dia manajer yang bagus. Nilai-nilai inti yang ia tanamkan mulai membawa tim ke jalur yang benar.”
Namun, tantangan besar menghadang di lini pertahanan. Cedera pergelangan kaki yang dialami Chris Richards membuat bek andalan itu absen dalam laga uji coba. “Dalam olahraga AS, kemampuan terbaik adalah ketersediaan,” kata Harkes mengingatkan. Tanpa Richards, lini belakang AS bisa goyah menghadapi tim-tim seperti Paraguay, Australia, dan Turki yang disebut Harkes sebagai lawan tangguh di grup.
Dari sisi ofensif, Folarin Balogun menjadi harapan baru. Striker 24 tahun AS Monaco itu mengakhiri musim dengan 11 gol dalam 14 pertandingan, menjawab kebutuhan tim akan ujung tombak tajam yang kurang di Piala Dunia 2022. Sementara Christian Pulisic, yang dijuluki “Captain America”, tengah berusaha memutus puasa golnya pada 2026. Ini bisa menjadi turnamen penentu warisannya.
Bagi Indonesia, performa AS di Piala Dunia 2026 menarik dicermati. Selain sebagai tuan rumah bersama dua negara Amerika Utara lainnya, turnamen ini akan menjadi panggung bagi para pemain yang berlaga di liga-liga Eropa—sebuah fenomena yang juga mulai melanda sepak bola Indonesia dengan banyaknya pemain diaspora. Keberhasilan AS memanfaatkan pengalaman pemain di luar negeri bisa menjadi pelajaran berharga bagi pengembangan sepak bola nasional.
Sejarah mencatat, tim putra AS hanya sekali melaju melewati babak 16 besar, yaitu saat finis ketiga pada 1930. Namun, dengan dukungan publik yang antusias dan skuad yang lebih matang, mungkinkah mereka menembus batas tersebut? “Jika lolos dari grup, apa pun bisa terjadi,” ujar Harkes optimistis.



