Tur Perpisahan Arashi Raup Dampak Ekonomi Rp13,7 Triliun, Penggemar Jepang Berbondong ke Konser
Baca dalam 60 detik
- Konser perpisahan grup idola Jepang Arashi di lima kota menghasilkan dampak ekonomi 137,5 miliar yen atau setara Rp13,7 triliun.
- Rata-rata pengeluaran per penonton mencapai 61.371 yen (Rp6,1 juta), melampaui konser musik skala besar sebelumnya.
- Efek berganda di kota tuan rumah menyumbang lebih dari separuh total dampak, mendorong sektor pariwisata dan jasa lokal.

Tur perpisahan grup idola legendaris Jepang, Arashi, yang berlangsung selama tiga bulan hingga akhir Mei lalu, mencatat dampak ekonomi luar biasa: 137,5 miliar yen atau sekitar Rp13,7 triliun. Angka ini dihimpun oleh Keizai Koka.NET, lembaga analisis dampak ekonomi Jepang, berdasarkan pengeluaran langsung dan tidak langsung dari 15 pertunjukan yang digelar di lima kota besar.
Arashi, yang telah berkarier selama 26,5 tahun, menggelar konser terakhirnya di Sapporo, Tokyo, Nagoya, Fukuoka, dan Osaka. Total penonton yang hadir secara langsung mencapai 800.000 orang. Tiket konser dibanderol 12.000 yen (Rp1,2 juta) per lembar, belum termasuk biaya layanan, sehingga pendapatan tiket diperkirakan mencapai 10,9 miliar yen (Rp1,1 triliun). Konser pamungkas juga disiarkan langsung secara daring dengan tiket mulai 3.900 yen (Rp390.000), dan diperkirakan ditonton oleh dua juta anggota fan club, menghasilkan 7,6 miliar yen (Rp760 miliar).
Penjualan merchandise resmi menjadi salah satu pilar terbesar, mencapai 10,5 miliar yen (Rp1,05 triliun). Penggemar rela mengeluarkan uang mulai dari beberapa ribu hingga puluhan ribu yen untuk barang edisi terbatas dan memorabilia. Sektor transportasi, akomodasi, dan makanan-minuman juga menikmati lonjakan permintaan, masing-masing menyumbang 5,8 miliar yen, 6,7 miliar yen, dan 4 miliar yen. Fenomena "live tourism"—di mana penggemar bepergian ke kota konser dan menikmati wisata lokal—turut mendorong perekonomian daerah.
Mitsumasa Eto, peneliti utama Keizai Koka.NET dan dosen paruh waktu di Tokyo City University, menyebut skala pengeluaran ini belum pernah terjadi sebelumnya. "Dibandingkan konser musik besar lainnya, tidak ada konser tiga setengah jam yang menghasilkan tingkat belanja konsumen setinggi ini," ujarnya. Rata-rata pengeluaran per penonton (tidak termasuk penonton daring) mencapai 61.371 yen (Rp6,1 juta), angka yang mencerminkan loyalitas luar biasa basis penggemar Arashi.
Fenomena ini memberikan gambaran menarik bagi industri hiburan di Indonesia. Meskipun skala ekonomi Jepang berbeda, antusiasme penggemar K-pop dan J-pop di Tanah Air menunjukkan potensi serupa. Konser grup idola seperti NCT 127 atau Blackpink di Jakarta kerap menimbulkan lonjakan permintaan tiket, akomodasi, dan merchandise. Namun, dampak ekonomi yang terukur masih jarang dipublikasikan. Ke depannya, penyelenggara dan pemerintah daerah dapat belajar dari model analisis dampak ekonomi seperti yang dilakukan Keizai Koka.NET untuk mengoptimalkan potensi pariwisata musik.
Pertanyaan yang mengemuka: apakah konser perpisahan grup idola Indonesia suatu hari nanti mampu menandingi dampak ekonomi Arashi? Atau justru kolaborasi antara promotor lokal dan platform digital dapat menciptakan fenomena serupa tanpa harus menunggu perpisahan?



