32 Tahun Love 972: Musikal 'Legend of the Ten Bruh' Hadirkan Nostalgia dan Kolaborasi Lintas Generasi
Baca dalam 60 detik
- Stasiun radio berbahasa Mandarin Love 972 memperingati tiga dekade lebih perjalanan siaran dengan pementasan musikal orisinal yang mengadaptasi legenda rakyat Tionghoa.
- Pertunjukan ini memadukan cerita sepuluh bersaudara berkekuatan super dengan sederet lagu pop Mandarin dari era 80-an hingga awal 2000-an untuk menarik pendengar lintas usia.
- Kolaborasi antara para penyiar radio dan artis tamu seperti aktor Elvin Ng diharapkan memberikan pengalaman teatrikal yang segar dan menghibur.

Radio Love 972, stasiun berbahasa Mandarin yang telah mengudara selama 32 tahun, merayakan usianya dengan pementasan musikal bertajuk Legend of the Ten Bruh. Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan, melainkan upaya stasiun untuk merangkul pendengar setia sekaligus menjangkau generasi baru melalui perpaduan cerita rakyat dan musik pop lintas zaman.
Musikal yang ditulis oleh Dennis Chew dan disutradarai George Chan ini terinspirasi dari legenda sepuluh bersaudara dalam folklor Tionghoa. Dalam kisah tersebut, sepuluh kakak beradik masing-masing memiliki kekuatan supernatural yang mereka gunakan untuk melawan penindasan. Versi panggungnya mengikuti perjalanan mereka setelah terpisah dari orang terkasih akibat krisis tak terduga, dengan rintangan komedi yang melibatkan Jenderal Qiang Wei dan ahli strategi Li Li Li.
Panggung pertunjukan akan diisi oleh para penyiar Love 972, termasuk Chew sendiri, Chen Biyu, Bukoh Mary, dan Chua Lee Lian. Mereka akan tampil bersama artis tamu seperti aktor Elvin Ng yang dikenal lewat sejumlah drama populer Singapura. Tidak hanya akting, musikal ini juga menyajikan lagu-lagu Mandarin klasik dari dekade 1980-an hingga awal 2000-an yang ditenun ke dalam alur cerita, memberikan sentuhan nostalgia bagi penonton yang tumbuh dengan musik era tersebut.
Langkah Love 972 menggelar musikal ini menandai tren stasiun radio yang terus berinovasi di tengah persaingan platform digital. Dengan menggabungkan elemen teater, musik, dan cerita rakyat, mereka tidak hanya mempertahankan relevansi tetapi juga menciptakan pengalaman imersif yang sulit ditiru media lain. Kehadiran tokoh-tokoh terkenal seperti Elvin Ng juga menjadi daya tarik tambahan bagi penonton di luar basis pendengar setia radio.
Bagi penggemar budaya pop Mandarin di kawasan Asia Tenggara, pementasan ini menawarkan peluang langka untuk menyaksikan kolaborasi antara penyiar radio dan aktor papan atas dalam satu panggung. Meskipun berlangsung di Singapura, antusiasme dari pendengar Indonesia yang mengikuti Love 972 melalui siaran daring patut diperhitungkan. Pertanyaannya, apakah kesuksesan acara ini akan mendorong stasiun radio serupa di Indonesia untuk mengikuti jejak inovatif Love 972?



