Mirra Andreeva, Sang Juara Termuda Roland Garros: 'Saya Berterima Kasih pada Diri Sendiri'
Baca dalam 60 detik
- Mirra Andreeva menaklukkan Maja Chwalinska 6-3, 6-2 di final Roland Garros, menjadi juara termuda sejak Monica Seles 1992.
- Kunci kemenangan adalah kedewasaan emosional berkat bantuan psikolog, mengubah ledakan amarah menjadi ketenangan ala Roger Federer.
- Andreeva kini mengincar gelar Grand Slam kedua dan bersiap untuk musim rumput, mengaku kecanduan dengan rasa juara.

Mirra Andreeva mengukir sejarah di Roland Garros 2025. Petenis Rusia berusia 19 tahun itu menaklukkan Maja Chwalinska dengan skor telak 6-3, 6-2 di partai puncak, sekaligus menjadi perempuan termuda yang merebut gelar tunggal Prancis Terbuka sejak Monica Seles pada 1992. Namun, yang paling menarik perhatian bukan hanya trofi, melainkan ucapan terima kasih yang ia sampaikan—kepada dirinya sendiri.
Dalam pidato kemenangan, Andreeva melontarkan kalimat yang sudah menjadi ciri khasnya: "Saya juga ingin berterima kasih pada diri sendiri karena telah percaya pada diri saya." Ungkapan ini, yang ia akui "mencuri" dari rapper Snoop Dogg, awalnya hanya lelucon. Namun, kini menjadi filosofi pribadi. "Andalah yang bekerja, Anda yang merasakan semua kegugupan. Jadi, mengapa tidak berterima kasih pada diri sendiri?" ujarnya dalam konferensi pers seusai pertandingan.
Perjalanan Andreeva menuju puncak tidaklah mulus. Setahun lalu, ia masih dikenal sebagai petenis muda dengan emosi meledak-ledak. Di perempat final Roland Garros 2024, ia hancur di hadapan publik sendiri saat kalah dari Lois Boisson. Beberapa bulan lalu, ia bahkan memukul raket dan memaki penonton di Indian Wells. Namun, di turnamen tahun ini, transformasi total terjadi. Andreeva tampil tenang dan dewasa, bahkan saat angin kencang dan permainan tak terduga Chwalinska menguji kesabarannya.
Kunci perubahan ini adalah psikolog Alexis Castorri, yang sebelumnya bekerja dengan Andy Murray. Castorri mengajarkan Andreeva untuk membayangkan "rambu berhenti besar" saat emosi hendak meluap. "Psikolog saya bilang, Anda selalu bisa memilih bagaimana bersikap di lapangan. Saya memilih menjadi petarung," kata Andreeva. Ia juga mengaku banyak menonton rekaman pertandingan Roger Federer untuk meniru aura tenang sang legenda. "Saya ingin terlihat baik di lapangan, tidak frustrasi atau tidak bahagia dengan permainan saya," tambahnya.
Di sisi lain, pelatih Conchita Martinez menjadi sosok sentral. Sejak bergabung pada 2024, Martinez telah membimbing Andreeva meraih lima gelar WTA Tour. Hubungan mereka tidak hanya profesional—di luar lapangan, mereka sering bermain Uno dan saling menjahili. Andreeva bahkan pernah membuat spanduk 'Let's go Senorita' untuk mendukung Martinez di Wimbledon. "Dia bilang sangat bangga padaku. Mendengar itu darinya sangat istimewa," ujar Andreeva.
Kemenangan ini juga mendapat sorotan dari legenda tenis Rusia, Maria Sharapova, yang menjadi perempuan Rusia terakhir sebelum Andreeva yang memenangi Grand Slam. "Tanda-tanda seorang juara. Bangga padamu, Mirra," tulis Sharapova di Instagram. Andreeva pun mengaku sudah memikirkan langkah selanjutnya. "Saya sudah berpikir bagaimana mempersiapkan musim rumput. Saya merasa hal ini sedikit membuat ketagihan. Saya ingin melakukan yang terbaik untuk merasakan semua ini untuk kedua kalinya," katanya.
Bagi Indonesia, prestasi Andreeva menjadi pengingat bahwa pengelolaan emosi dan dukungan psikologis adalah faktor krusial dalam olahraga prestasi. Di tengah minimnya perhatian terhadap aspek mental atlet di tanah air, kisah Andreeva bisa menjadi contoh bagaimana pendekatan holistik—teknik, fisik, dan mental—mampu melahirkan juara di usia muda. Pertanyaan besarnya: akankah Indonesia mulai serius membangun infrastruktur psikologi olahraga untuk mencetak atlet-atlet tangguh seperti Andreeva?



