Tekanan di Roland Garros: Siapa yang Mampu Bertahan di Semifinal?
Baca dalam 60 detik
- Empat pemain, termasuk Alexander Zverev yang sudah tiga kali kalah di final Grand Slam, bersaing menjadi juara baru di Prancis Terbuka setelah kejutan tersingkirnya Jannik Sinner.
- Jakub Mensik, Flavio Cobolli, dan Matteo Arnaldi menjalani semifinal Grand Slam pertama mereka, dengan tekanan mental menjadi faktor penentu.
- Turnamen ini membuka peluang bagi petenis non-unggulan untuk merebut gelar, mengingat absennya nama-nama besar seperti Alcaraz, Sinner, dan Djokovic.

Empat petenis yang belum pernah merasakan gelar Grand Slam akan saling berhadapan di semifinal Prancis Terbuka, Jumat (6/6), dalam salah satu babak empat besar paling tidak terduga dalam sejarah turnamen. Alexander Zverev, Jakub Mensik, Flavio Cobolli, dan Matteo Arnaldi sama-sama berjarak dua kemenangan dari mahkota di Roland Garros—sebuah skenario yang nyaris mustahil diprediksi sebelum turnamen dimulai.
Kejutan terbesar terjadi ketika unggulan pertama Jannik Sinner tersingkir di babak kedua, membuka peta persaingan yang semula diperkirakan hanya miliknya. Zverev, yang kini menjadi unggulan tertinggi tersisa, langsung dianggap sebagai favorit. Namun, catatan tiga kekalahan di final Grand Slam—termasuk saat ia kehilangan keunggulan dua set atas Dominic Thiem di AS Terbuka 2020—menjadi beban psikologis yang tak bisa diabaikan. “Saya tidak peduli dianggap favorit,” ujar Zverev, seperti dikutip dari wawancara. “Saya hanya fokus pada pertandingan berikutnya.”
Di sisi lain, tiga semifinalis lainnya justru menikmati status sebagai kuda hitam. Jakub Mensik, petenis Ceko berusia 20 tahun, telah menunjukkan ketenangan luar biasa saat mengalahkan Joao Fonseca di perempat final, meski harus memanfaatkan tujuh match point. Kemenangannya atas Novak Djokovic di Miami Open tahun lalu membuktikan ia mampu tampil di panggung besar. Namun, legenda tenis Michael Chang mengingatkan bahwa ekspektasi justru bisa menjadi bumerang. “Bagi pemain muda, tekanan tidak selalu memberi kebebasan,” ujar Chang, yang menjadi juara termuda Prancis Terbuka pada usia 17 tahun.
Duel sesama Italia antara Flavio Cobolli dan Matteo Arnaldi menjadi cerita menarik lainnya. Cobolli, yang pernah menjadi bagian dari akademi AS Roma sebelum beralih ke tenis, mengaku tidak pernah membebani dirinya sendiri. “Saya menjalani momen ini seperti anak kecil, dengan semangat dan senyuman,” katanya. Sementara Arnaldi, yang nyaris tidak masuk undian utama karena cedera kaki, justru tampil garang dengan menghabiskan hampir 20 jam di lapangan. “Saya tidak bisa mengeluh. Saya senang bisa bermain lagi,” ucapnya.
Bagi penggemar tenis Indonesia, momen ini mengingatkan pada pentingnya manajemen tekanan di level tertinggi. Di tengah minimnya wakil Asia di turnamen Grand Slam, kisah para pemain yang bangkit dari keterpurukan—seperti Arnaldi yang melewati masa tersulit kariernya—bisa menjadi inspirasi. Selain itu, absennya nama-nama besar seperti Alcaraz, Sinner, dan Djokovic membuktikan bahwa persaingan di tenis pria semakin terbuka, memberikan harapan bagi pemain non-unggulan untuk bersinar.
Pertanyaan besarnya: akankah Zverev akhirnya memutus kutukan final, atau justru salah satu dari tiga pemain muda yang akan mengangkat trofi? Dengan sejarah yang menunjukkan bahwa pengalaman kerap kalah oleh keberanian, Roland Garros edisi ini mungkin akan melahirkan juara baru yang tak terduga.



